Kelompok Muslim Menggugat ‘Undang-undang Agama’ di Quebec yang Larang Jilbab

Asosiasi Kebebasan Sipil Kanada dan anggota Dewan Nasional Muslim Kanada Mustafa Farooq, meninggalkan Pengadilam Quebec. (Graham Hughes/pers Kanada)

Indonesiainside.id, Trenton-Dewan Nasional Muslim Kanada (NCCM) dan  Asosiasi Kebebasan Sipil Kanada (CCLA), hari Jumat mengajukan gugatan terhadap rancangan undang-undang simbol keagamaan yang kontroversial di pengadilan tinggi Kanada, demikian kutip Anadolu Agency.

Rancangan Undang-undang simbol agama Quebec melarang sebagian besar pegawai negeri, termasuk perawat, guru, dan petugas kepolisian, mengenakan simbol-simbol agama seperti turban, jilbab, salib dan kippah saat bekerja.

Penggugat dalam kasus ini termasuk NCCM, CCLA dan Ichrak Nourel Hak, seorang mahasiswa Universitas Montreal yang belajar untuk menjadi seorang guru tetapi karena dia mengenakan jilbab, dia tidak bisa mengajar di sekolah umum Quebec.

Undang-undang yang dikenal dengan Bill 21, disahkan pada bulan Juni.

Bulan lalu, Pengadilan Tinggi Quebec menolak permintaan untuk menangguhkan bagian-bagian hukum,  sambil menunggu putusan tentang konstitusionalitasnya.

Dalam sebuah pernyataan Jumat, Dewan Nasional Muslim Kanada (NCCM) dan Asosiasi Kebebasan Sipil Kanada (CCLA), bersama penggugat (Ichrak Nourel Hak), mengatakan mereka telah mengajukan permintaan untuk mengajukan banding ke pengadilan tinggi Kanada.

Permintaan disajikan dalam 27 halaman ringkasan. Hakim Mahkamah Agung harus memutuskan apakah akan menerima atau tidak kasus ini.

Undang-undang kontroversial ini diperkenalkan oleh pemerintah Koalisi Avenir Québec, disahkan di Majelis Nasional Quebec dengan suara 73-35.

Pengadilan Tinggi Quebec memutuskan pada bulan September bahwa sementara undang-undang telah menyebabkan kerugian bagi warga Quebec yang memakai simbol-simbol agama, itu tidak bisa membatalkan hukum yang disahkan oleh perwakilan terpilih.

Sejak Bill 21 diajukan, para advokat melaporkan melonjaknya pelecehan publik terhadap perempuan Muslim.

Manalle Abdallah mengatakan dia tidak bisa berkata-kata setelah seorang pria meludahinya dan temannya di sebuah pusat perbelanjaan di pulau Montreal, setelah Bill 21 diumumkan.

Selain diludahi, Abdallah (23) dan seorang temannya, diteriaki ‘kembali ke negara asalmu,  saat sedang antri beli es krim pusat perbelanjaan Rockland Centre di Kota Mount Royal sebulan yang lalu.

Anggota parlemen Quebec mengatakan RUU sekularisme akan melembagakan diskriminasi, memicu Islamofobia.

Sementara pada akademisi tidak menemukan manfaat undang-undang ini.  Para kritikus mengatakan RUU Bill 21 itu haya akan menghalangi hak orang untuk mempraktikkan agama mereka, memecah Quebec dan mengeluarkan minoritas dari layanan publik – begitu tidak proporsional bagi perempuan Muslim yang mengenakan jilbab.  (CK)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here