‘Gangguan Mental’, Sepertiga Pemuda Israel Ogah Ikut Wajib Militer

Tentara Yahudi
Tentara IDF menangis saat pemakaman rekannya korban Perang Gaza. Foto: Istimewa

Indonesiainside.id, Jerusalem- Di saat Jenderal Israel Yitzhak Barik terus memperingatkan bahwa tentaranya tidak siap untuk melakukan perang baru, sebuah laporan yang bocor baru-baru ini mengungkapkan pada hari Ahad bahwa sepertiga dari pemudia Israel dan 44% perempuannya menghindari wajib militer.

Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Aviv Kochavi memerintahkan untuk membuat rencana darurat untuk mengatasi situasi ini. Laporan ini pertama kali diterbitkan surat kabar Yedioth Ahronoth, mengatakan fenomena menghindar wajib militer telah menyebar luas di Israel, tulis al-Sharq al-Awsat, media berbahasa Arab bermarkas di London, Inggris.

Untuk menghindari wajib militer, Israel mengandalkan undang-undang  (UU) militer yang memungkinkan rekrutmen menerima pembebasan dengan alasan masalah medis atau kesehatan. Menurut UU Israel, setiap orang yang standar kesehatannya kurang dari 21 poin dibebaskan dari dinas militer.

Beberapa berpura-pura menderita anoia atau cacat agar mendapat nilai rendah; tindakan yang dilihat oleh tentara Israel sangat berbahaya.

Kepala Direktorat Personalia Angkatan Darat Mayor Jenderal Moti Almoz mengirim surat kepada petugas kesehatan mental mengenai masalah ini, menekankan bahwa setiap pembebasan atas kesehatan mental individu harus dilakukan atas dasar profesional dan bertanggung jawab.

Surat kabar itu mencatat bahwa jumlah orang yang menghindar terus meningkat. Tahun 2007 tercatat 25% dan kemudian naik secara bertahap dari 26,9% pada 2015 menjadi 30% pada 2018, mencapai 32,9% tahun lalu.

Sementara itu, ketika sepertiga dari pemuda mendapatkan pembebasan mental, sebanyak 15% tentara Irael melarikan diri dari tugas selama dinas mereka. Statistik juga menunjukkan, hampir setengah dari pemuda Israel (47,9%) tidak menyelesaikan dinas militer mereka, kata Yedioth Ahronoth.

 

Tren yang mengganggu bahkan lebih parah bagi perempuan, sebanyak 44,3% dibebaskan dari dinas militer mereka, kutip The Jerusalem Post.

Surat kabar itu juga menerbitkan laporan rahasia yang mengungkap bahwa batalion intelijen militer ke-319 menderita kekurangan besar yang membuatnya tidak mampu memasuki pertempuran. Ada juga kekurangan kendaraan militer yang digunakan untuk mentransfer peralatan.

Mengomentari keluhan tentaranya ini, Jenderal Yitzhak Barik mengatakan bahwa mereka tidak ingin mengakui bahwa tentara tidak siap untuk perang. (CK)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here