Presiden Meksiko Tuduh Isu Perempuan Dimanfaatkan Lawan Politiknya

Indonesiainside.id, Meksiko – Masyarakat Meksiko baru-baru ini melakukan aksi protes terhadap meningkatnya pembunuhan perempuan di Meksiko. Demonstrasi semacam itu telah berkembang dalam beberapa bulan terakhir, terutama di ibu kota, di tengah meningkatnya kemarahan tentang kekerasan berbasis gender, termasuk mutilasi pembunuhan yang mengerikan dan pembunuhan penculikan seorang gadis berusia tujuh tahun.

Presiden Meksiko, Andres Manuel Lopez Obrador, melihat aksi demonstrasi tersebut dari sisi berbeda. Dalam konferensi persnya, dia menjawab bahwa pemerintahannya memiliki kebijakannya tersendiri tentang hak-hak perempuan secara lebih luas.

“Kita akan memperkuat strategi yang sama untuk mengatasi penyebab yang menghasilkan kekerasan itu,” kata Lopez Obrador dilansir dari Al-Jazeera, Rabu (11/3).

Dia menuturkan kebijakannya tentang perempuan akan mengarah pada cara hidup bermasyarakat yang lebih baik. Lopez Obrador memberikan tugas tersebut kepada Sekretaris Dalam Negeri, Olga Sanchez Cordero.

“Biarkan Cordero yang mengoordinasikan semua tindakan ini untuk membela hak-hak perempuan. Dia akan menyerahkannya pada saya minggu depan. Jika kebijakan itu berhasil, itu untuk anda semua para perempuan,” terangnya.

Presiden Lopez Obrador menyadari bahwa gerakan perempuan sangat penting dan mengatakan pemerintahnya mendukung mereka. Justru, dia menuduh bahwa lawan politiknya memanfaatkan demonstrasi tersebut untuk mengambil keuntungan dan mencoba merusak pemerintahannya agar situasi semakin rumit.

Diketahui sekitar 80.000 wanita berbaris melalui Kota Meksiko dan kota-kota lain di seluruh negeri. Mereka rela bolos kerja dan sekolah untuk memperjuangkan nasib wanita yang terbunuh dan hilang. Demonstran perempuan mengajak perempuan lain untuk peduli dengan masalah ini.

Menurut angka resmi, 3.825 wanita di Meksiko mengalami kematian akibat kekerasan pada tahun 2019, rata-rata lebih dari 10 hari dan kenaikan 7% dari tahun sebelumnya. Pembunuhan secara umum juga telah meningkat selama beberapa tahun berturut-turut, sejak sebelum Lopez Obrador menjabat pada Desember 2018. Sebagian besar dari semua kejahatan terhadap perempuan di negara ini tidak dihukum. (CK)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here