Presiden Duterte Isolasi Ibu Kota Manila selama 30 Hari

Indonesiainside.id, Jakarta – Presiden Filipina Rodrigo Duterte menaikkan status Kode Merah Sublevel 2 dan mengisolasi ibu kota Manila selama 30 hari. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah wabah Covid-19.

Akses masuk dan keluar dari Metro Manila, baik untuk perjalanan darat, laut maupun udara, ditutup mulai 15 Maret hingga 14 April. Kebijakan itu dikeluarkan setelah Covid-19 merenggut lima nyawa dan menginfeksi 47 lainnya di Filipina.

“Kami tidak ingin menggunakan [istilah] itu, tapi ini adalah isolasi [lockdown],” ujar Duterte, Kamis malam, kutip the Philippine Star.

Sebagian besar kasus itu berada di ibu kota Manila, yang berpenduduk lebih dari 13 juta jiwa dan menampung sekitar 3 juta pekerja yang berasal dari provinsi sekitar. Selama masa karantina, penduduk dilarang meninggalkan ibu kota, demi mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut.

Sekretaris Dalam Negeri Eduardo Ano mengatakan pekerja yang berasal dari wilayah sekitar masih diizinkan masuk. Syaratnya, lanjut Ano, mereka harus menunjukkan bukti bekerja di Manila.

Akan ada pos-pos pemeriksaan di sepanjang perbatasan Metro Manila, imbuh Ano. Wakil Menteri Perdagangan Ruth Castelo menambahkan bahwa karantina itu tidak berlaku bagi barang yang keluar masuk ibu kota.

Begitu pula, transportasi massal di ibu kota seperti LRT dan MRT tetap beroperasi. Selain itu, Duterte juga melarang adanya pertemuan massa dan meminta perusahaan swasta untuk mendukung pengaturan jam kerja yang fleksibel. Aturan itu juga berlaku bagi orang asing yang akan masuk Filipina.

Pemerintah hanya membolehkan masuk warga Filipina, pemegang visa penduduk tetap dan visa diplomatik. (CK/AA)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here