3 Miliar Manusia Di-lockdown di Dunia, Lebih 20.000 Jiwa Melayang

Pier 39, salah satu tujuan wisata dan pusat perbelanjaan terkenal di San Fransisco, ditutup untuk umum pada hari Selasa (17/3/2020). Foto: Anadolu Agency

Indonesiainside.id, Jakarta – Penyebaran virus corona jenis baru atau Covid-19 mengurung lebih dari 3 miliar manusia di atas bumi ini. Dari total kasus positif terjangkit virus ganas tersebut, lebih dari 20.800 jiwa melayang sebagaimana dilaporkan di 182 negara dan wilayah.

Channel News Asia melansir bahwa kebijakan lockdown oleh sejumlah negara telah mengunci atau mengurung sedikitnya 3 miliar orang di dunia. Hal ini membuktikan bahwa pandemi global tersebut merupakan bencana terdahsyat yang pernah ada sehingga butuh penanganan secara bersama-sama oleh masyarakat dunia.

Hanya upaya global bersama yang dapat menghentikan penyebaran virus yang bersumber dari Wuhan, Cina, ini sehingga dunia harus bersatu membendungnya. “Covid-19 mengancam seluruh umat manusia dan seluruh umat manusia harus melawan. Aksi global dan solidaritas sangat penting,” kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

Penguncian kawasan atau lockdown ini sudah dilakukan di berbagai negara. Bahkan, Wuhan, sebagai daerah episentrum virus tersebut sekalipun, baru bisa membaik setelah dilakukan lockdown. Negara-negara lain pun menyusul, termasuk India dan Malaysia.

Sejak lockdown tersebut, diperkirakan sebanyak 3 miliar manusia di seluruh dunia, hidup dalam penguncian. Inilah langkah terbaik sementara yang diambil oleh pemimpin negara untuk meningkatkan upaya mereka melawan pandemi virus corona, yang telah menewaskan lebih dari 20.000 orang.

Meski begitu, lockdown bukan jaminan sebagaimana seruan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kepada seluruh negara yang saat ini melakukan lockdown, WHO mengingatkan bahwa langkah tersebut tidak cukup untuk memberantas pandemi virus corona (Covid-19).

WHO menegaskan kepada negara-negara untuk mengambil langkah yang lebih agresif untuk menemukan, mengisolasi, menguji, merawat, dan melacak persebaran virus corona. “Langkah-langkah ini tidak akan memadamkan epidemi. Kami meminta semua negara memikirkan ulang untuk menyerang virus corona baru. Buatlah opsi kedua,” kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Sementara itu, Pemerintah Indonesia hingga saat ini belum memberikan tanda-tanda akan melakukan lockdown. Kebijakan lockdown juga tidak dibenarkan bagi sebuah wilayah atau daerah tanpa seizin pemerintah pusat. Di lain sisi, hampir semua provinsi di Tanah Air sudah digerogoti virus corona.

Kelambanan Pemerintah Pusat mengunci atau melokalisir warga agar tidak terjangkit virus corona membuat daerah mulai gregetan. Salah satunya, Pemerintah Kabupaten Mamberamo Tengah, Papua, dikabarkan telah melakukan lockdown.

Pemerintah setempat menutup semua akses keluar masuk ke wilayah itu sebagai upaya nyata mencegah penyebaran Covid-19. “Langkah Pemerintah Provinsi Papua untuk menutup akses keluar masuk dari dan keluar Papua melalui transportasi udara dan laut untuk mencegah virus corona diikuti pula Pemerintah Kabupaten Mamberamo Tengah. Kepastian ditutupnya akses jalan masuk ke Mamberamo Tengah selama dua pekan,”ungkap Bupati Mamberamo Tengah Ricky Ham Pagawak, Kamis(26/3).

Terkait lambannya kebijakan lockdown, Sekretaris Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) DPR, Achmad Baidowi, mendesak pemerintah segera mengambil opsi tersebut. Opsi lockdown makin mendesak akibat banyaknya pasien positif Covid-19.

Menurut dia, penerapan UU 6/2018 tentang Karantina Kesehatan harus diterapkan mengingat kondisi saat ini sudah sangat menprihatinkan. “Penyebaran virus sangat massif sementara interaksi sosial masih terjadi. Maka pemerintah sudah bisa mempertimbangkan opsi karantina untuk kota-kota besar yang penyebaran Covid-19 sangat sporadis khususnya DKI Jakarta,” kata mantan wartawan Koran SINDO ini, Kamis (26/3).

Sosiolog yang juga dosen Universitas Indonesia Imam B Prasodjo mengatakan, bangsa Indonesia adalah bangsa yang akrab sehingga lockdown atau memenjarakan fisik untuk mencegah penyebaran Covid-19 menjadi sesuatu hal yang aneh. Di lain sisi, pemenjaraan fisik sangat perlu.

“Jaga jarak perlu dilakukan terutama untuk mencegah percikan-percikan yang terjadi saat kita batuk, bersin, bahkan berbicara mengenai tubuh kita,” kata Imam di Jakarta, Kamis. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here