Peneliti: 70.000 Orang Indonesia Akan Terinfeksi Covid-19 di Akhir April

pasien terinfeksi corona
Ilustrasi pasien covid-19. Foto: Istimewa

Indonesiainside.id, Jakarta – Saat ini, Indonesia tercatat memiliki tingkat kematian tertinggi akibat virus corona (covid-19) di dunia. Sejauh ini, terdapat 790 orang telah didiagnosis positif dan 58 orang telah meninggal dunia, yang berarti tingkat kematian yang dimiliki Indonesia sekitar 9%.

Pemerintah Indonesia hanya melakukan sekitar 2.000 tes dengan jumlah populasi Indonesia lebih dari 270 juta penduduk. Para peneliti percaya, pengujian yang lebih besar dapat mengungkap bahwa ada jutaan orang Indonesia yang akan terinfeksi dalam beberapa bulan mendatang.

Hadi Susanto, seorang profesor matematika terapan di Universitas Essex di Inggris, mengatakan 50 persen penduduk Jakarta dapat terinfeksi dalam 50 hari setelah kasus pertama diumumkan oleh Presiden pada 2 Maret. “Kami menggunakan Jakarta sebagai sampel dengan populasi sekitar 10 juta. Pada puncaknya, virus ini dapat menginfeksi 50 persen dari total jumlah populasi disana,” ungkap Hadi dilansir dari Daily Mail, Kamis (26/3).

Dia memperingatkan prediksi itu bisa lebih mengerikan jika Indonesia memilih untuk tidak melakukan penguncian atau lockdown. Namun, Presiden Joko Widodo telah menegaskan bahwa lockdown bukan pilihan untuk Indonesia dan pemerintah tidak akan melakukannya dengan alasan perekonomian.

Namun, Hadi mengatakan dia tidak menginginkan perhitungan itu menjadi kenyataan. “Kami tidak ingin 1 persen dari 50 persen populasi yang terinfeksi mati,” kata dia.

Perkiraan yang lebih konservatif menunjukkan bahwa sekitar 70.000 orang Indonesia dapat terserang virus corona pada akhir April. Peneliti surveilans penyakit dan biostatistik, Iqbal Ridzi Elyazar, dari Unit Penelitian Klinis Eijkman-Oxford menghitung angka infeksi dengan menilai waktu penggandaan infeksi sejauh ini yang terjadi di Indonesia.

Mereka membandingkan Indonesia dengan Iran dan Italia, di mana virus menyebar dengan cepat di kedua negara itu dan juga membandingkan terhadap Cina dan Jepang, yang memiliki tingkat penyebaran yang lebih lambat. Hasilnya, Elyazar mencatat tingkat infeksi di Indonesia meningkat dua kali lipat dalam tiga hari terakhir.

“Semakin pendek waktu penggandaan, semakin berbahaya. Tujuh puluh seribu kasus mungkin terdengar menakutkan, tetapi itulah yang akan terjadi tanpa intervensi yang tepat,” kata dia. (MSH)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here