Kegagalan Lockdown India: Ekonomi Makin Sulit Bahkan Kasus Covid-19 Terus Melonjak

Toko-toko yang tutup di sebuah pasar di Amritsar, Punjab, setelah penguncian coronavirus (gambar representasional) | PTI

Indonesiainside.id, New Delhi – Sudah lebih dari 50 hari semenjak Perdana Menteri India, Narendra Modi, mengeluarkan kebijakan lockdown nasional untuk meminimalisir penyebaran Covid-19. Namun, niat untuk mengurangi angka kasus infeksi, India justru semakin terpuruk dengan keadaan ekonomi yang semakin sulit dan peningkatan kasus yang terus melonjak.

Sejak hari Ahad (10/5), India melaporkan jumlah tertinggi dari infeksi baru setiap harinya. Sekitar 4.400 kasus, yang menjadikannya total kasus lebih dari 78.000 infeksi di India. Hal ini menjadikan sektor bisnis di India jatuh ke level terendah di seluruh dunia selama masa lockdown.

Ekonomi India akan menuju kontraksi tahunan pertamanya dalam 40 tahun terakhir. Banyak masyarakat India yang kelaparan dan menderita penyakit yang tidak dapat diobati. Situasi sulit itu memaksa Pemerintah India untuk mulai mengurangi pembatasan, bahkan ketika kasus-kasus baru semakin meningkat. Pelonggaran kebijakan di India diperkirakan akan tetap berlanjut hingga minggu depan di banyak negara bagian.

Kebijakan baru itu meningkatkan kekhawatiran bahwa virus itu akan dengan mudah menyebar lebih cepat, karena orang-orang diizinkan keluar selama beberapa minggu mendatang. Beberapa masyarakat menilai bahwa kerugian akibat kebijakan lockdown tidak sebanding jika pada akhirnya mereka belum bisa menang dalam peperangan melawan pandemi.

“Keseluruhan biaya yang dikeluarkan India tidak menguntungkan. Setelah mengalami peningkatan kematian dan penderitaan ekonomi, anda sama sekali tidak bisa menghilangkan virus itu dari sini,” kata T. Sundararaman, Koordinator Global People’s Health Movement, dilansir dari theprint.in, Jum’at (15/5).

Pengalaman India itu mencerminkan bahwa kebijakan itu tidak sesuai di negara-negara berkembang. Mereka akan dihadapkan dengan jutaan orang yang siap jatuh ke dalam jurang kemiskinan. Namun, juru bicara Modi berpendapat bahwa seandainya lockdown tidak diberlakukan, India akan memiliki kasus infeksi sebanyak 820.000 pada 15 April.

Dia berpendapat, paling tidak kebijakan lockdown itu telah memperlambat penularan virus untuk saat ini, meskipun itu tidak membuat kurva infeksi mereka rata seperti Spanyol dan Italia setelah memberlakukan lockdown mereka. Hal serupa juga dikatakan oleh menteri kesehatan federal India, yang mengklaim bahwa lockdown itu telah membantu India untuk menurunkan tingkat infeksi secara signifikan.

Jumlah total kasus yang tercatat di India juga masih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain seperti AS, di mana kasus telah menyentuh 1,4 juta. Negara di Asia Selatan mungkin belum mencapai level epidemi terburuk. Pakar Pemerintah India mulai mengakui puncak wabah ini di negaranya sekitar bulan Juni atau Juli. Sementara negara-negara seperti AS, Jerman, dan Italia harus fokus pada gelombang infeksi kedua. (CK)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here