Obat Antivirus Remdesivir, Harapan Terbaik Pemulihan Covid-19

Indonesiainside.id, Washington – Amerika Serikat (AS) telah mengesahkan penggunaan antivirus remdesivir untuk penanganan pasien darurat Covid-19 di rumah sakit sejak 1 Mei lalu. Langkah itu diikuti Jepang, namun Eropa masih mempertimbangkan.

Berdasarkan hasil penelitian, remdesivir yang disuntikkan secara intravena setiap hari selama 10 hari, mempercepat pemulihan pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit. Pengobatan ini diklaim lebih baik dibandingkan plasebo dalam tes klinis kepada lebih dari 1.000 pasien di 10 negara.

Obat antivirus remdesivir diyakini dapat mempersingkat masa pemulihan pasien virus corona jenis baru. Klaim ini terungkap dari hasil uji coba yang diterbitkan Jumat (22/5) malam.

Hasil penelitian ini keluar tiga minggu setelah ahli penyakit menular Amerika Serikat (AS) mengungkap bahwa obat itu bermanfaat dan mujarab. Penelitian ini dilakukan badan pemerintah AS, Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular (NIAID), diterbitkan oleh majalah kedokteran terkemuka New England Journal of Medicine.

Pada 29 April, Direktur NIAID Anthony Fauci, yang menjadi corong terpercaya pemerintah AS mengenai pandemi virus corona, mengatakan bukti awal menunjukkan bahwa remdesivir memiliki dampak yang jelas, signifikan dan positif dalam mengurangi waktu pemulihan.

National Institutes of Health, mengatakan dalam sebuah pernyataan online bahwa para peneliti menemukan remdesivir paling bermanfaat bagi pasien rawat inap dengan penyakit parah yang membutuhkan oksigen tambahan.

Tetapi perlu juga ditekankan bahwa obat ini tidak mencegah terjadinya kematian. “Mengingat angka kematian yang tinggi meskipun menggunakan remdesivir, jelas bahwa pengobatan dengan obat anti-virus saja tidak cukup,” kata mereka.

Sekitar 7,1 persen pasien yang diberi remdesivir pada kelompok uji coba meninggal dalam 14 hari – dibandingkan dengan 11,9 persen pada kelompok plasebo. Namun, hasilnya tepat di bawah ambang batas reliabilitas statistik, yang berarti bisa jadi kebetulan dan bukan kemampuan obat. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here