Puluhan Ribu Pekerja di Bangladesh Tak Terima Gaji saat Lebaran

Indonesiainside.id, Dhaka – Lebih dari 10.000 pekerja pabrik garmen di Bangladesh menghabiskan hari terakhir Ramadhan untuk memprotes gaji dan tunjangan mereka yang belum dibayarkan perusahaan. Harapan mereka pupus untuk merayakan Idul Fitri yang menyenangkan bersama keluarga.

Menurut Asosiasi Produsen dan Eksportir Garmen Bangladesh (BGMEA), sedikitnya 60 pabrik belum membayar pekerja mereka sebelum liburan Idul Fitri sementara 478 lainnya telah ditutup selama dua bulan terakhir karena pesanan garmen senilai lebih dari $3,15 miliar atau sekitar Rp46 triliun dari Negara-nagara barat dibatalkan, dan pembayaran dihentikan, imbas pandemi.

Sejak wabah Covid-19 merebak, industri tekstil di negara itu menerima pukulan besar terhadap ekspornya karena banyak pengecer dari Barat menahan pembayaran untuk pesanan yang telah dikirim.
Pada bulan Maret, pemerintah Bangladesh mengumumkan paket stimulus sebesar $600 juta atau hampir Rp9 miliar sebagai pengganti gaji dan bonus untuk para pekerja garmen.

“Sebagian besar pabrik telah membayar gaji dan bonus kepada pekerja sebelum Idul Fitri. Namun, sebagian lagi tidak bisa melakukan pembayaran karena mereka kehilangan semua perintah kerja dan menghadapi krisis keuangan yang ekstrem,” kata Arshad Jamal Dipu, Wakil Presiden BGMEA, kepada Arab News.

“Pabrik-pabrik yang tidak mampu membayar pekerjanya adalah yang tidak memenuhi syarat untuk mengajukan paket stimulus pemerintah. Ini terutama pabrik kecil dan menengah yang bekerja sebagai subkontraktor untuk pabrik besar,” tambah Dipu.

Menurut pedoman pemerintah, hanya pabrik yang mengekspor 80 persen produk mereka dalam beberapa tahun terakhir yang dapat mengklaim dana pemerintah. Dipu mengatakan bahwa dalam banyak kasus, para pembeli menawarkan potongan harga atau pembayaran yang ditangguhkan kepada pemasok garmen Bangladesh.

Nazma Akter, Presiden Federasi Gabungan Pekerja Garmen, mengatakan organisasinya memiliki informasi sekitar 20.000 pekerja pabrik yang tidak dibayar sebelum lebaran.

“Kami akan duduk bersama dengan pemilik pabrik serta para pemimpin BGMEA segera setelah liburan Idul Fitri. Pekerja pabrik kami harus dibayar segera karena mereka termasuk dalam kelompok masyarakat yang terpinggirkan,” kata Akter kepada Arab News.

Sementara itu, pemerintah sedang mempertimbangkan tindakan hukum terhadap pabrik-pabrik yang gagal membayar pekerja mereka tepat waktu.

“Manajemen pabrik seharusnya membayar semua tunggakan sebelum liburan Idul Fitri. Kami akan mengajukan kasus di pengadilan perburuhan terhadap otoritas pabrik setelah pengadilan dilanjutkan setelah liburan Idul Fitri,” kata Shib Nath Roy, Inspektur Jenderal Departemen Inspeksi untuk Pabrik dan Perusahaan, kepada Arab News.

“Kami juga akan berhenti memperbarui mereka lisensi untuk beroperasi karena gagal membayar tunggakan.”

Ekspor tekstil adalah sumber penghasilan mata uang asing terbesar untuk Bangladesh. Tahun lalu, sektor ini memperoleh pemasukan sebesar $36 miliar atau sekitar Rp531 triliun untuk negara itu, menurut BGMEA. Ada lebih dari 4.000 pabrik tekstil di negara itu yang mempekerjakan lebih dari 4 juta pekerja, yang sebagian besar adalah perempuan, kata badan itu menambahkan. (CK)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here