ABK Kembali Meninggal di Kapal Ikan China, KLC Minta Dibentuk Tim Investigasi

Tangkapan layar jasad WNI ABK yang akan dilarung ke laut di kapal Cina. Foto: MBCNEWS

Indonesiainside.id, Jakarta – Kasus meninggalnya anak buah kapal (ABK) Indonesia yang bekerja di kapal ikan milik perusahaan Cina kembali terjadi. ABK tersebut meninggal di Pakistan akhir pekan kemarin.

Juru Bicara Koalisi Lawan Corona (KLC), Nukila Evanty, mendesak pemerintah membentuk investigasi independen terdiri dari Kemenlu, Kepolisian, BP2MI atau Kemenaker, Komnas HAM, dan NGO internasional bidang pekerja migran dan HAM serta lembaga bantuan hukum (LBH). Pasalnya, dia menilai ada dugaan tindak pidana human trafficking dan modern slavery (perbudakan modern).

“Kami juga mendesak diumumkannya hasil proses investigasi sampai gugatan hukum di pengadilan, termasuk di kapal Xianggang Xinhai Shipping Co.Ltd yang baru-baru ini terjadi,” kata Nukila kepada Indonesiainside.id, Rabu (27/5).

Nukila mengatakan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) seharusnya proaktif untuk memperbaiki potret kondisi hidup dan bekerja ABK atau nelayan di atas kapal perikanan jarak jauh tersebut (distant water fishing). Menurut dia, tragedi berulang ini menunjukkan bukti lemahnya perlindungan pemerintah Indonesia terhadap pekerja migran atau nelayan di sektor kelautan dan perikanan.

“Kami meminta pemerintah untuk mengarusutamakan Konvensi ILO Nomor 188 tahun 2007 mengenai pekerjaan dalam penangkapan ikan kepada pemilik kapal,” ucapnya.

KLC, tutur Nukila, mendesak diperbaikinya sistem penempatan tenaga kerja termasuk rekruitmen, kontrak kerja yang menguntungkan ABK di laut dan menjamin hak-hak asasi ABK. “Pemerintah harus mendesak otoritas China agar mengusut dugaan perbudakan tersebut, sembari melakukan pembenahan di dalam negeri,” tuturnya.

Sebelumnya, Dua ABK Indonesia berinisial Ha dan EA tanggal 14 Mei 2020 mengadu kepada Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI). Saat bekerja di kapal ikan tersebut, Ha mengalami sakit hernia dan ES mengalami kecelakaan kerja.

Keduanya dipindahkan ke kapal Chad 3 milik perusahaan Pakistan di sekitar perairan Somalia. Dokter sudah memeriksa kondisi keduanya di atas kapal, selanjutnya kondisi ES mengkhawatirkan dan dibawa ke RS Zaenuddin Karachi, tetapi meninggal jam 22.00 waktu Pakistan.

MTB adalah perusahaan sama yang menyalurkan Herdianto, ABK Indonesia yang meninggal dan dilarung di laut Somalia oleh kapal berbendera Cina bernama Luqing Yuan Yu 623. Pemerintah melalui Kemenaker dan BP2MI seharusnya belajar dari kasus yang menimpa ABK WNI di kapal ikan berbendera Cina pada 5 Mei lalu. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here