Remdesivir Dinilai Menjanjikan Untuk Penanganan Covid-19

Remdesivir sebelumnya adalah obat anti-virus yang digunakan melawan Ebola. Foto: GettyImages

Indonesiainside.id, Jakarta – Obat remdesivir dinilai mempersingkat waktu pemulihan pasien Covid-19 dan sudah dapat digunakan oleh layanan kesehatan nasional Inggris (NHS).

“Obat itu mungkin merupakan langkah maju terbesar dalam penanganan pasien Covid-19 sejak krisis dimulai,” kata Menteri Kesehatan, Matt Hancock, Rabu(27/5), seperti dilansir BBC News.

Remdesivir sebelumnya adalah obat anti-virus yang digunakan melawan Ebola. Regulator Inggris mengatakan ada cukup bukti untuk menyetujui penggunaannya pada pasien Covid-19 di rumah sakit yang terpilih.

Untuk saat ini karena persediaan yang terbatas, obat itu akan diprioritaskan bagi mereka yang paling membutuhkan.

AS dan Jepang telah membuat pengaturan mendesak yang serupa untuk mendapatkan akses dini ke obat itu, sebelum obat itu punya kesepakatan pemasaran.

Obat tersebut saat ini sedang diuji klinis di seluruh dunia, termasuk di Inggris.

Data awal menunjukkan obat itu dapat mengurangi waktu pemulihan sekitar empat hari, tetapi belum ada bukti bahwa obat itu akan menyelamatkan lebih banyak nyawa.

Uji klinis baru-baru ini menunjukkan remdesivir membantu mempersingkat waktu pemulihan bagi orang yang sakit parah.

Tidak jelas berapa banyak stok obat perusahaan farmasi Gilead Sciences yang tersedia untuk mengobati pasien di Inggris. Alokasi obat yang diberikan dengan infus atau injeksi, akan didasarkan pada saran dokter.

Dr Stephen Griffin dari Fakultas Kedokteran Universitas Leeds, mengatakan obat itu mungkin adalah antivirus yang paling menjanjikan untuk virus corona sejauh ini. Dia mengatakan pasien dengan penyakit paling parah kemungkinan akan menerimanya terlebih dahulu.

“Meskipun ini jelas pendekatan yang paling etis, itu juga berarti bahwa kita tidak boleh mengharapkan obat itu akan menjadi ‘peluru ajaib’.

“Kami berharap untuk meningkatkan tingkat pemulihan dan mengurangi angka kematian pasien, sesuatu yang kami harap akan bermanfaat bagi sebanyak mungkin pasien.”

Obat lain yang sedang diselidiki untuk virus corona termasuk obat malaria dan HIV. Pengujian obat malaria hidroksiklorokuin telah dihentikan karena kekhawatiran akan aspek keselamatan terutama berbahaya bagi jantung. (EP/BBC)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here