Kekebalan Masyarakat Tanpa Gejala Covid-19 Naik Dua Kali Lipat

Warga menghabiskan waktu di Kordonboyu, menyusul pekan tanpa pembatasan sosial di Izmir, Turki, Minggu (7/6). Agensi Anadolu/Mehmet Eser

Indonesiainside.id, London – Sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa jumlah orang yang kebal terhadap Covid-19 lebih tinggi dari yang diperkirakan. Tes antibodi juga bukan lagi alat terbaik untuk melacaknya.

Penelitian yang dilakukan oleh Karolinska Institutet di Swedia, bekerja sama dengan Rumah Sakit Universitas Karolinska, mempelajari 200 orang sehat tanpa gejala, mengukur tingkat antibodi bersamaan dengan respons sel-T atau sel darah putih yang merupakan komponen kunci dari respons tubuh untuk menangani Covid-19.

Hasilnya menemukan bahwa sekitar 30 persen subyek memiliki kekebalan sel-T, yang dua kali lipat dari jumlah yang menunjukkan tingkat antibodi yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kekebalan pada masyarakat umum tanpa gejala Covid-19 mungkin dua kali lebih tinggi dari pemikiran sebelumnya.

Soo Aleman, seorang konsultan di Rumah Sakit Universitas Karolinska, mengatakan sel-T ditemukan baik pada orang yang terpapar Covid-19, dan anggota keluarga yang tanpa gejala, menunjukkan bahwa kekebalan tidak hanya terbatas pada mereka yang terpapar virus saja.

Temuan terbaru itu datang setelah penelitian yang dilakukan oleh tim dari Universitas Padua di Italia dan Imperial College, London, di kota Vo di Italia utara, yang menemukan bahwa hingga 40 persen kasus yang terdeteksi tidak menunjukkan gejala.

Sementara pengujian antibodi di Inggris, menunjukkan bahwa dari hanya sekitar 7 persen orang di Inggris yang sebelumnya mengembangkan antibodi, kini naik menjadi 17 persen di London.

Penemuan ini, meskipun belum ditinjau oleh peneliti lain, namun dapat mengindikasikan bahwa hotspot utama untuk penyakit ini mungkin lebih jauh dalam proses mencapai kekebalan kawanan, yang berarti kekebalan melalui pemaparan bertahap suatu populasi terhadap suatu patogen.

Itu akan menandakan langkah maju yang besar dalam perang melawan virus, jika sebagian besar masyarakat lebih mampu menahan efek Covid-19 dengan cara alami.

“Kami melihat sekitar dua kali lebih banyak orang yang memiliki tanggapan sel T atau kekebalan sel dibandingkan dengan antibodi,” kata Marcus Buggert, asisten profesor di Karolinska Institutet. “Ini artinya bahwa kita mungkin meremehkan jumlah orang yang memiliki semacam kekebalan.”.

Tes antibodi, yang hingga kini merupakan metode utama untuk mendeteksi imunitas, terbukti tidak hanya memiliki kemampuan yang rendah untuk menguji imunitas, tetapi juga menjadi sumber ketidakpercayaan yang hebat selama pandemi, dengan beberapa negara mengakui bahwa ribuan alat tes dipesan namun tidak hasilnya sesuai dengan harapan.

Pengujian sel-T oleh Karolinska Institutet, bagaimanapun, bisa memakan waktu hingga enam hari untuk menghasilkan hasil, sementara tes antibodi dapat dikembalikan dalam waktu kurang dari satu jam.

“Hasil kami menunjukkan bahwa kekebalan publik terhadap Covid-19 mungkin secara signifikan lebih tinggi daripada tes antibodi yang disarankan. Jika ini masalahnya, tentu saja ini adalah berita yang sangat baik dari sudut pandang kesehatan masyarakat,” kata Profesor Hans-Gustaf Ljunggren dari Karolinska Institutet.

Dilansir Arab News, Swedia tetap menjadi satu-satunya negara besar di Eropa yang tidak menjalani penutupan resmi dalam upaya menghentikan penyebaran Covid-19.

Hanya 7,3 persen orang di ibukota Stockholm yang ditemukan memiliki antibodi Covid-19 dalam sistem mereka pada bulan April, dengan studi yang lebih baru menunjukkan bahwa antibodi meningkat dalam beberapa bulan menjadi 17 persen.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here