Setelah 100 Hari Lockdown, Apa yang Terjadi di Inggris?

inggris
Warga melintas di depan gedung bioskop yang masih ditutup di London, Inggris. Foto: Agensi Anadolu

Indonesiainside.id, London – Banyak langkah dan perubahan yang telah dilewati Inggris selama masa pandemi. Terhitung hingga Selasa (30/6), Inggris sudah melewati 100 hari penerapan lockdown oleh Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson.

Koresponden Indonesiainside.id di London, Rafkha Gibrani melaporkan, pada awal penerapan lockdown, suasana kota-kota di Inggris sangat sepi dan sunyi. Aneh rasanya melihat kota seperti London yang sangat terkenal dengan kesibukan dan kecepatan yang mendadak kosong dan senyap.

Ketakutan masyarakat terhadap Covid-19 begitu besar hingga social dan physical distancing sangat dijunjung tinggi di kalangan masyarakat Inggris. Berbagai macam bentuk dukungan ditujukan sepenuhnya kepada tenaga medis yang bekerja di garda terdepan melawan pandemi SARS-Cov-2.

Muncul aksi tepuk tangan untuk tenaga medis selama satu menit di setiap hari Kamis jam 8 malam, produsen pakaian lokal menjual kaos bertuliskan “Support NHS”, hingga layanan antarjemput makanan, Deliveroo memberikan pilihan untuk memberi paket makanan bagi tenaga medis dalam aplikasinya.

Baca Juga:  Meski Ada Risiko Gelombang Kedua Covid-19, PM Inggris Nekat Buka Sekolah September

Deliveroo adalah perusahaan pengiriman makanan online yang berbasis di London, Inggris. Maskapai ini beroperasi di dua ratus kota di Inggris, Belanda, Prancis, Belgia, Irlandia, Spanyol, Italia, Australia, Singapura, Uni Emirat Arab, Hong Kong, dan Kuwait.

Dalam tiga bulan terakhir, Inggris juga pernah menyedot perhatian dunia karena kasus kematian terkait Covid-19 di Inggris mencapai angka tertinggi setelah Amerika Serikat dan menjadi angka kematian paling tinggi di negara-negara Eropa. Tinggi nya angka kematian terkait Covid-19 dikaitkan dengan respons lambat pemerintah Inggris dalam melakukan lockdown.

Kesulitan pada sektor ekonomi menjadi perhatian utama pemerintah Inggris, bantuan pemerintah Inggris kepada pengusaha disalurkan dengan cara membayar 80% gaji karyawan pengusaha-pengusaha di seluruh Inggris yang terkena efek dari pandemi.

Setelah lockdown berjalan selama hampir tiga bulan, Inggris mulai membuka perbatasan dan mengizinkan penerbangan masuk dan keluar negeri pada 8 Juni 2020 dengan syarat melakukan protokol kesehatan.

Peraturan pembatasan jumlah orang dalam berkumpul, peraturan keluar untuk olahraga, dan peraturan untuk pergi berlibur di dalam negeri juga sudah dilonggarkan, orang-orang sudah bebas keluar dan masuk rumah tanpa jumlah dan waktu yang telah ditentukan.
Meski begitu, masyarakat Inggris tetap menjaga jarak aman dan mengenakan masker di dalam transportasi umum.

Baca Juga:  Ahli Virus: Bali Harusnya Masih Lockdown

Pemerintah Inggris mengambil langkah ‘new normal’ secara persuasif dengan melonggarkan peraturan satu per satu tanpa mengumumkan secara resmi akan menerapkan new normal. Langkah ini diambil oleh pemerintah Inggris dengan segala pertimbangan.

Pemerintah Inggris berkaca dari Korea Selatan yang menggunakan aplikasi untuk melacak jejak infeksi dari pasien yang tertular Covid-19. Lockdown lokal pun telah diterapkan di salah satu kota di Inggris, Leicester. Karena pertumbuhan kasus per hari yang cukup tinggi, daerah-daerah di Inggris yang memiliki pertumbuhan kasus per hari di atas rata-rata akan mengikuti langkah yang dilakukan oleh pemerintah daerah Leicester, yaitu lockdown lokal. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here