Uni Eropa Beri Izin Bersyarat Penggunaan Remdesivir untuk Pengobatan Covid-19

Remdesivir sebelumnya adalah obat anti-virus yang digunakan melawan Ebola. Foto: GettyImages

Indonesiainside.id, Brussels – Komisi Uni Eropa (UE) memberikan persetujuan bersyarat untuk penggunaan remdesivir pada pasien Covid-19 parah, Jumat (3/7). Hal itu diputuskan setelah proses peninjauan remdesivir dipercepat, dan menjadikannya terapi resmi pertama di kawasan itu untuk pengobatan virus corona.

Langkah ini dilakukan hanya seminggu setelah Badan Obat Eropa (EMA) memberikan lampu hijau untuk obat tersebut, untuk digunakan pada orang dewasa dan remaja dari usia 12 tahun yang juga menderita pneumonia, dan membutuhkan dukungan oksigen.

Itu juga datang hanya beberapa hari setelah perusahaan pembuat remdesivir, Gilead Sciences, mengalokasikan hampir semua pasokannya ke Amerika Serikat (AS) selama tiga bulan ke depan, sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang ketersediaan pasokan di negara lain.

“Kami tidak akan meninggalkan kebutuhan bisnis dalam upaya kami untuk mendapatkan perawatan atau vaksin yang efisien terhadap virus corona,” kata Stella Kyriakides, Komisaris Uni Eropa untuk Kesehatan dan Keamanan Pangan, dalam sebuah pernyataan, yang dilansir Channel News Asia.

Sebelumnya, komisi itu mengatakan pada Rabu (1/7), bahwa pihaknya sedang dalam negosiasi dengan Gilead untuk mendapatkan dosis remdesivir bagi 27 negara anggota UE.

Remdesivir saat ini menghadapi banyak permintaan, setelah obat yang diberikan secara intravena itu membantu mempersingkat waktu pemulihan di rumah sakit dalam uji klinis. Hal ini diyakini paling efektif dalam mengobati pasien Covid-19 lebih awal, daripada terapi lain seperti steroid dexamethasone. Tetap saja, karena remdesivir diberikan secara intravena paling tidak selama lima hari, obat ini biasanya digunakan pada pasien yang cukup sakit dan memerlukan rawat inap.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here