Pelaku Pembantaian Jamaah di Masjid Chistchurch Tak Mau Diwakili Pengacara

Komisi Khusus yang menyelidiki peristiwa serangan terorisme kepada jamaah masjid di Christchurch diperpanjang masa tugasnya hingga April 2020. Foto: ABC News

Indonesiainside.id, Christchurch – Brenton Tarrant, tersangka serangan teroris yang menewaskan 51 jamaah, di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, dikabarkan memilih untuk mewakili dirinya sendiri dalam persidangan.

Langkah itu menimbulkan kekhawatiran sejumlah pengamat bahwa dia akan menggunakan sidang pengadilan bulan depan sebagai panggung untuk mengampanyekan pandangan supremasi kulit putihnya.

Brenton Tarrant akan dijatuhi hukuman pada 24 Agustus 2020 atas 51 tuduhan pembunuhan, 40 percobaan pembunuhan dan satu tuduhan tindakan terorisme yang timbul dari penembakan massal 15 Maret 2019 lalu. Aksinya tercatat sebagai penembakan massal terburuk dalam sejarah modern Selandia Baru. Dia mengaku bersalah atas beberapa tuduhan tersebut

Pada sidang pra-vonis, Senin (13/7), Hakim Pengadilan Tinggi, Cameron Mander mengizinkan pengacara Tarrant, Shane Tait dan Jonathan Hudson, untuk menarik diri dari persidangan atas permintaan klien mereka. Namun, hakim memerintahkan penasihat hukum siaga tetap tersedia bulan depan jika Tarrant berubah pikiran.

Presiden Asosiasi Muslim Selandia Baru Ikhlaq Kashkari mempertanyakan motif Tarrant yang memilih untuk mewakili dirinya sendiri dalam persidangan. Kashkari mengatakan para korban dapat mengalami trauma berulang jika pria bersenjata itu diizinkan untuk mengeluarkan retorika ekstremis sayap kanan dalam persidangan.

“Kekhawatiran pertama saya adalah ‘Ya Tuhan, apa yang dilakukan orang ini, apakah dia akan menggunakan persidangan sebagai platform untuk mempromosikan pandangan dan pikirannya?’,” kata Kashkari. “Banyak orang masih mengalami trauma dan ini dipandang sebagai salah satu peristiwa yang akan memberi mereka penutupan. Saya berharap itu tidak akan menjadi sesuatu yang akan memicu lebih banyak rasa sakit sebagai gantinya.”

Pada 15 Maret 2019, Tarrant menembak mati 51 jamaah Muslim saat shalat Jumat di dua masjid di Christchurch. Dia bahkan menyiarkan langsung pembantaiannya tersebut di Facebook. Korbannya termasuk anak-anak dan orang lanjut usia.

Tuduhan terorisme dan pembunuhan bisa membuatnya dijatuhi hukuman seumur hidup, yang artinya dia wajib menjalani hukuman minimal 17 tahun penjara sebelum ada kemungkinan pembebasan bersyarat. (ASF)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here