Kasus Kematian Pertama di bawah Pemerintahan PM Al-Kadhimi, Dua Pengunjuk Rasa Tewas di Baghdad

Indonesiainside.id, Baghdad – Dua demonstran tewas tertembak di Baghdad dalam konfrontasi dengan pasukan keamanan, Senin (27/7) pagi. Ini adalah korban jiwa pertama akibat kekerasan terkait protes di bawah pemerintahan perdana menteri baru Irak yang berjanji untuk berdialog dengan para aktivis.

Kematian itu mengancam untuk menyalakan kembali gerakan aksi protes yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap korupsi dan ketidakmampuan pemerintah yang meletus di Baghdad dan Irak selatan pada Oktober lalu.  Pada Ahad (26/7), para demonstran menggelar aksi unjuk rasa di ibukota dan beberapa kota di wilayah selatan. Puluhan warga berkumpul di pusat aksi protes, Lapangan Tahrir, Baghdad, berbenturan dengan polisi dan pasukan keamanan lainnya.

“Dua demonstran tewas pagi ini. Satu ditembak dengan tabung gas air mata di bagian kepala, dan satu lagi di leher,” kata seorang tenaga medis.

Tubuh mereka dibawa dari Lapangan Tahrir oleh rekan-rekan aktivis, sebelum dibawa ke kota Syiah Najaf di selatan ibu kota untuk dimakamkan.  “Kami tidak punya senjata, tidak ada pisau, hanya nyanyian kami,” kata Ahmad Jabbar, seorang pemrotes pria di alun-alun. “Kami bentrok dengan mereka selama enam jam. Mereka bahkan tidak akan membiarkan ambulans datang untuk mengobati yang terluka.”

Lebih banyak unjuk rasa digelar pada Senin malam, dengan para aktivis menuntut pembebasan rekan-rekan pengunjuk rasa yang ditangkap malam sebelumnya. “Jika orang-orang kami tidak dibebaskan, kami akan meningkatkan upaya kami. Kami tinggal di tenda kami, dan kami tidak takut,” kata pemrotes lain, Maytham al-Darraji.

Kematian pengunjuk rasa itu adalah kasus pertama sejak Perdana Menteri baru Irak, Mustafa al-Kadhimi menjabat. Sebelumnya al-Kadhimi berjanji untuk berdialog dengan para pemrotes, saat mulai menjabat pada Mei lalu.

Kantor perdana menteri mengakui peristiwa yang tidak menguntungkan dalam aksi protes itu, tetapi bersikeras pasukan keamanan diperintahkan untuk tidak menggunakan kekerasan kecuali benar-benar diperlukan. Mereka menambahkan bahwa pemerintah akan melakukan penyelidikan dan meminta pertanggungjawaban pihak yang bertanggung jawab.

Namun para pemrotes terlanjur membandingkan al-Kadhimi dengan pendahulunya Adel Abdel Mahdi, yang mengundurkan diri tahun lalu setelah ia dipersalahkan atas tanggapan kekerasan terhadap demonstrasi.  “Ternyata, tidak ada perbedaan antara pemerintahan al-Kadhimi dan Abdel Mahdi,” kata Darraji, yang dilansir Arab News.

Sekitar 550 orang tewas dalam gelombang unjuk rasa sebelumnya, dan 30.000 lainnya terluka, akibat tembakan tabung gas air mata militer yang dapat menembus tengkorak jika ditembakkan secara langsung.  Hampir tidak ada pertanggungjawaban atas kematian tersebut di bawah Abdel Mahdi. Sementara al-Kadhimi berjanji untuk menerbitkan daftar semua korban, melakukan penyelidikan, dan mendengarkan tuntutan para pengunjuk rasa. (NE)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here