PBB: Kematian Warga Sipil Menurun Tajam Ketika Amerika Mundur dari Afghanistan

Gerilyawan Taliban yang menyerahkan diri. Foto: istimewa

Indonesiainside.id, Jakarta – Sebuah laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan korban masyarakat sipil di Afghanistan berada pada tingkat terendah selama delapan tahun terakhir. Sebagian besar karena adanya gencatan senjata pada bulan Februari yang ditandatangani antara Taliban dan pasukan AS yang memungkinkan untuk mulai menarik diri (mundur) dari negara itu.

Misi Bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Afghanistan (UNAMA) menyebutkan hasil pengamatannya bahwa negara di Asia Tengah itu mengalami berkah atas gencatan senjata itu dengan tingkat kematian penduduk sipil mengalami penurunan 13%, baik yang terbunuh atau terluka antara 1 Januari dan 30 Juni 2020.

“Pada akhir Juni, 1.282 warga Afghanistan telah terbunuh oleh kekerasan berbasis konflik, dan 2.176 telah terluka,” bunyi laporan tengah tahun misi itu, Senin(27/7), seperti dilansir Sputnik.

Pada akhir Februari, AS dan kelompok gerilyawan Taliban menandatangani gencatan senjata yang dapat menjadi jalan menuju berakhirnya perang dengan Washington selama 18 tahun di Afghanistan.

Amerika melakukan invasi ke Afghanistan sejak akhir 2001, dengan alasan perang melawan teroris Al-Qaeda yang mendirikan pangkalan di pegunungan Afghanistan. Pemerintahan Taliban yang berkuasa lantas digulingkan Amerika dan mereka kemudian melakukan perlawanan.

“Pada saat pemerintah Afghanistan dan Taliban mempunyai kesempatan bersejarah untuk bersatu di meja perundingan dengan kesepakatan damai, kenyataan tragisnya adalah bahwa pertempuran terus berlanjut, yang menimbulkan kerugian besar bagi warga sipil setiap hari,” kata kepala UNAMA Deborah Lyons.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here