Dituduh Terlibat dalam Genosida Muslim Rohingya, Aung San Suu Kyi tetap Maju dalam Pilpres Myanmar

Aung San Suu Kyi (AFP)

Indonesiainside.id, Yangon – Aung San Suu Kyi, secara resmi menyatakan niatnya pada Selasa (4/8), untuk maju dalam pemilihan presiden pada November nanti. Hal ini dipandang sejumlah pihak sebagai ujian bagi reformasi demokrasi negara itu, mengingat sejumlah tuduhan yang mengaitkan Suu Kyi dalam penindasan dan genosida Muslim Rohingya.

Setelah puluhan tahun berkuasa di militer, Suu Kyi, yang memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian karena berkampanye untuk demokrasi, mengambil kendali pemerintahan pada 2016 setelah pemilu yang gagal, dan terpaksa berbagi kekuasaan dengan para jenderal.

Meski reputasi internasionalnya merosot karena penindasan Myanmar terhadap Muslim Rohingya, tetapi dia tetap populer di dalam negeri, di mana citranya tidak jatuh oleh tuduhan keterlibatan dalam kekejaman terhadap minoritas.

Pada Selasa (4/8), Suu Kyi, 75, melambaikan tangan kepada kerumunan sekitar 50 pendukung di pinggiran mantan ibukota Yangon saat mengajukan aplikasi untuk mencalonkan diri sebagai kandidat presiden. Beberapa pendukungnya yang mengenakan masker berwarna merah, menunjukkan dukungan mereka kepada partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) dan berteriak: “Bunda Suu, sehat selalu.”

Pada 2017, tindakan keras pimpinan militer di Myanmar mengakibatkan lebih dari 730.000 Muslim Rohingya melarikan diri melintasi perbatasan ke Bangladesh, tempat mereka berlindung di kamp-kamp pengungsi. Bahkan penyelidik PBB menyimpulkan bahwa kampanye eksekusi militer di wilayah itu datang dengan niat genosida.

Pada Januari lalu, Suu Kyi mengakui bahwa kejahatan perang mungkin dilakukan terhadap Muslim Rohingya, tetapi membantah adanya genosida. Dia mengklaim bahwa para pengungsi melebih-lebihkan sejauh mana pelanggaran terhadap mereka

Muslim Gambia mengajukan gugatan pada November lalu di Pengadilan Internasional, yang menuduh Myanmar melakukan genosida berkelanjutan terhadap Muslim Rohingya. Myanmar mengajukan laporan tentang kepatuhannya terhadap langkah-langkah untuk melindungi Rohingya, tetapi rincian dokumen tersebut belum dipublikasikan.

Di sisi domestik, pemerintahan Suu Kyi lemah dalam pembicaraan damai dengan kelompok-kelompok etnis bersenjata di berbagai bagian negara, sementara sektor ekonomi juga kesulitan menghadapi tekanan baru dari pandemi virus corona.

Dilansir Arab News, Partai Solidaritas dan Pembangunan Union, yang didominasi militer dan pensiunan pegawai negeri, akan menjadi lawan utama Partai pendukung Suu Kyi NLD. (SD)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here