Tembus 5 Juta Kasus, Amerika Dinilai ‘Keok’ Melawan Corona

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenakan masker untuk pertama kalinya di depan umum dalam kunjungannya ke Pusat Medis Walter Reed pada Sabtu (11/7). ABC News

Indonesiainside.id, Jakarta – Kasus virus corona di Amerika mencapai 5 juta pada hari Ahad(9/8), dan menjadi kasus yang tertinggi dari negara mana pun.

Kegagalan negara paling kuat di dunia untuk menahan momok tersebut membuat negara-negara di Eropa keheranan dan dilanda kekhawatiran.

Mungkin tidak ada tempat lain di luar AS di mana respon untuk mengatasi virus corona begitu ceroboh dibanding di Italia, yang merupakan titik nol epidemi Eropa.

Orang Italia tidak siap ketika wabah meletus pada bulan Februari, dan negara itu masih memiliki salah satu angka kematian resmi tertinggi di dunia dengan lebih dari 35.000 orang.

Tetapi setelah menerapkan lockdown selama 10 minggu yang ketat secara nasional, pelacakan yang cermat terhadap cluster baru, dan penerimaan masyarakat atas mandat pemakaian masker dan penerapan jarak sosial, Italia telah menjadi model pertahanan atas virus corona.

“Apakah mereka tidak peduli dengan kesehatan mereka?” kata Patrizia Antonini yang mengenakan topeng bertanya tentang orang-orang di Amerika Serikat saat dia berjalan bersama teman-temannya di sepanjang tepi Danau Bracciano, sebelah utara Roma. “Mereka perlu berhati-hati. … Mereka membutuhkan lockdown yang serius. “lanjutnya seperti dilansir AFP.

Sebagian besar masyarakat Eropa tidak percaya kondisi di Amerika saat ini karena mereka memiliki kesempatan berbenah, pengalaman yang dialami Eropa dan pengetahuan medis untuk mengobati virus – yang tidak dimiliki benua itu sendiri ketika pasien Covid-19 pertama mulai mendatangi unit perawatan intensif.

Lebih dari empat bulan setelah wabah melanda, AS mencatat jumlah penderita sebanyak 5 juta, menurut hitungan oleh Universitas Johns Hopkins.

Pejabat kesehatan percaya jumlah sebenarnya mungkin 10 kali lebih tinggi, atau mendekati 50 juta, mengingat batasan pengujian dan fakta bahwa sebanyak 40% dari semua orang yang terinfeksi tidak memiliki gejala.

“Kami orang Italia selalu melihat Amerika sebagai model,” kata Massimo Franco, kolumnis harian Corriere della Sera. “Tetapi virus ini membuka mata bahwa kami melihat Amerika tidak sekuat yang dibayangkan. Ini sebuah negara yang sangat rapuh, dengan infrastruktur yang buruk dan omong kosong dengan sistem kesehatan publik.”

Dengan jumlah kematian tertinggi di dunia di Amerika yakni lebih dari 160.000, penolakan politiknya terhadap masker dan beban infeksi corona yang meningkat,kini Eropa mempertimbangkan untuk tidak menerima wisatawan dari AS.

Prancis dan Jerman sekarang mulai memberlakukan tes ketat untuk pelancong dari negara-negara “berisiko”, termasuk AS.

“Saya sangat menyadari bahwa ini mempengaruhi kebebasan individu, tetapi saya percaya bahwa ini adalah intervensi yang dapat dibenarkan,” kata Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn pekan lalu.

Kesalahan juga sempat terjadi di Eropa, mulai dari penerapan lockdown yang telat hingga perlindungan yang tidak memadai untuk panti jompo lansia dan kekurangan APD untuk personel medis.(EP)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here