97.000 Anak Positif Terinfeksi Virus Corona Dalam Dua Minggu Terakhir Bulan Juli

Perawat memakaikan pelindung muka atau 'face shield' untuk bayi di RS Ibu dan Anak Asih, Jakarta, Jumat (17/4/2020). RSIA Asih memberikan perlindungan dini berupa pelindung muka atau 'face shield' kepada bayi baru lahir, bayi atau anak yang melakukan imunisasi dari paparan Covid-19 saat berada di area publik rumah sakit tersebut. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/pras.

Indonesiainside.id, New York – Sebuah laporan tinjauan data Covid-19 di Amerika Serikat (AS), menunjukkan bahwa setidaknya 97.000 anak dinyatakan positif terinfeksi virus corona selama dua minggu terakhir pada bulan Juli.  Temuan tersebut, ditinjau berdasarkan data tingkat negara bagian AS, yang dilakukan oleh Asosiasi Rumah Sakit Pediatrik dan Anak Amerika. Dikatakan, peningkatan tersebut mewakili lonjakan 40% dalam total kumulatif kasus anak di AS.

“Saya pikir ini menunjukkan bahwa, anak-anak dapat terinfeksi, dan dapat menyebarkan infeksi,” kata Dr Sean O’Leary, spesialis penyakit menular anak di Rumah Sakit Anak Colorado, yang juga adalah Wakil Ketua Komite Penyakit Menular untuk Akademi Pediatri Amerika.

Menariknya, laporan tersebut muncul di saat sekolah-sekolah di seluruh AS derdebat dengan kapan dan bagaimana membuka kembali pembelajaran tatap muka dengan aman. Presiden Trump berusaha menekan sekolah di AS agar dibuka kembali, dengan mengancam untuk menahan dana federal.

Selain itu, dalam sebuah wawancara televisi, Trump juga secara keliru mengklaim bahwa anak-anak kebal terhadap Covid-19. “Hampir, saya tidak mengatakan dengan pasti, tetapi hampir kebal dari penyakit ini (Covid-19),” ujar Trump.

Laporan baru ini menegaskan kembali bahwa pada kenyataannya anak-anak tidak kebal terhadap penyakit mematikan ini, yang sudah merenggut lebih dari 700.000 nyawa di seluruh dunia.

Sejak awal pandemi, setidaknya 340.000 anak-anak dinyatakan positif mengidap virus corona, mewakili sekitar 9% kasus di AS hingga saat ini. Meningkatnya kasus pada anak, menurut laporan itu, sebagian besar terdapat di negara bagian wilayah Selatan dan Barat, termasuk Missouri, Oklahoma, Georgia, Florida, Montana dan Alaska.

Laporan tersebut juga dilengkapi dengan beberapa peringatan penting. Diantaranya bahwa peningkatan kasus ini sebagian besar disebabkan oleh peningkatan pengujian virus corona. Hal lain, sejumlah negara bagian mendefinisikan usia anak secara berbeda. Untuk tujuan pelaporan data, mayoritas negara bagian menggunakan rentang usia antara 0-17 dan 0-19, tetapi, di Tennessee dan Carolina Selatan, batasnya adalah 20, sedangkan di Alabama, 24.

Selain itu, menurut laporan tersebut, jumlahnya tes positif di antara anak-anak bisa jauh lebih tinggi karena pelaporan yang tidak lengkap dari New York dan Texas. Faktanya, Texas menyediakan distribusi usia hanya untuk 8% dari kasus Covid-19 yang dikonfirmasi dan dikeluarkan dari banyak temuan laporan tersebut.

Laporan itu juga menemukan sebuah hasil yang bisa dikatakan sebagai kabar baik. Meskipun tingkat infeksi anak meningkat, data juga menunjukkan bahwa kebanyakan anak tidak sakit kritis dengan penyakit tersebut, dan bahwa angka rawat inap untuk anak-anak saat ini masih rendah, yaitu 2%.

Namun yang kurang jelas di sini adalah seberapa efektif anak-anak menyebarkan virus di ruang kelas, tidak hanya kepada teman sekelas, tetapi juga kepada guru dan staf sekolah.  Data dari Korea Selatan menunjukkan bahwa anak-anak di bawah 10 tahun mungkin tidak mudah menyebarkan penyakit, tetapi remaja belasan tahun dapat menyebarkan virus, mungkin seefektif orang dewasa.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit juga membagikan kisah peringatan lainnya, untuk sekolah-sekolah yang mempertimbangkan untuk dibuka kembali. Pada akhir Juni, penyakit menyebar dengan cepat di antara staf dan anak-anak di perkemahan di kota Georgia. Dalam hitungan hari, setidaknya 260 anak dan staf dinyatakan positif. Menariknya, dari anak yang diuji, mereka yang berusia 6 sampai 10 tahun, memiliki tingkat infeksi tertinggi, sebanyak 51% yang dinyatakan positif.

“Di tempat-tempat di mana ada pengendalian virus yang sangat baik,” kata O’Leary, “dengan langkah-langkah mitigasi yang diterapkan, saya pikir cukup aman untuk membuka sekolah. Kita tidak akan pernah mencapai risiko nol.”

Kota New York adalah contoh utama dari distrik sekolah yang berencana untuk membuka kembali sebagian sekolahnya pada musim gugur ini, karena komunitas yang lebih luas mengikuti pedoman keselamatan, dan secara dramatis mengurangi tingkat infeksi, dengan 1% tes virus corona sekarang menjadi positif.

Tetapi di tempat-tempat di mana virus masih menyebar secara luas, O’Leary mengatakan, data baru ini merupakan pengingat penting bahwa membuka kembali sekolah mungkin tidak aman. Jika virus corona menyebar di masyarakat, tidak dapat dipungkiri akan menyebar juga ke siswa dan staf ke sekolah. (NE)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here