Pemerintah Singapura Pusing, Banyak Remajanya Bunuh Diri

Ilustrasi gantung diri. Foto: Istimewa

Indonesiainside.id, Singapura – Otoritas Singapura terus mencermati tingkat bunuh diri di Singapura, khususnya alasan mengapa pemuda berisiko lebih besar.

Sebuah laporan dari Samaritans of Singapore (SOS) menemukan bahwa jumlah kasus bunuh diri pada warga berusia 20-an masih menjadi yang tertinggi tahun lalu di antara semua kelompok umur, lansir Channel News Asia.

Pusat pencegahan bunuh diri itu mengatakan warga berusia 20-an berada dalam fase transisi dalam hidup mereka, apakah itu menyelesaikan pendidikan, memulai karir atau berurusan dengan hubungan percintaan, yang bisa menimbulkan lebih banyak faktor stres dan meningkatkan risiko pikiran untuk bunuh diri.

Pada 2019, 71 orang berusia antara 20 hingga 29 tahun bunuh diri, yang menyumbang sekitar sepertiga dari semua kematian dalam kelompok usia ini.

“Selama periode usia 20-29 tahun, individu menyelesaikan pendidikan mereka, membangun karir mereka, atau memulai sebuah keluarga sendiri. Transisi melalui tahapan kehidupan yang berbeda ini dapat menjadi pemicu stres dan perubahan besar dalam kehidupan seseorang,” kata Kementerian Sosial dan Pembangunan Keluarga (MSF), Kementerian Kesehatan (MOH) dan Kementerian Pendidikan (MOE).

Sementara itu, Dr. Tracie Lazaroo, psikolog klinis dari Inner Light Psychological Services and LP Clinic, mengatakan individu dalam kelompok usia ini cenderung menjalani banyak transisi kehidupan yang dapat menyebabkan stres psikososial terkait.

“Hal ini dapat meningkatkan risiko pengembangan depresi dan kecemasan, terutama dalam budaya di mana mencari bantuan untuk masalah kesehatan mental bukanlah praktik umum,” ujar Lazaroo.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here