WHO: Puluhan Ribu Pengungsi dan Anak Rohingya Trauma akibat Kekerasan di Myanmar

Dokumentasi pengungsi Rohingya berkumpul untuk memperingati dua tahun eksodus di kamp Kutupalong di Cox Bazar, Bangladesh. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Dhaka – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti masalah kesehatan mental dari ribuan pengungsi Rohingya di Bangladesh saat ini. Para pengungsi dilaporkan berjuang dengan masalah trauma akibat pelecehan dan kekerasan yang mereka alami di Myanmar.

Data statistik yang dirilis pada Hari Kesehatan Mental Sedunia, yang diperingati pada 10 Oktober setiap tahun, berupaya menyoroti penderitaan hampir satu juta pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar, kamp pengungsi terbesar di dunia.

Menurut data yang dirilis WHO, terdapat 14.819 konsultasi untuk kondisi kesehatan mental yang didaftarkan di antara warga Rohingya pada 2019. Dan sejak Januari hingga sekarang angkanya melonjak menjadi hampir 20.000 laporan.

“Setelah krisis, satu dari lima (22 persen) pengungsi diperkirakan mengalami depresi, kecemasan, gangguan stres pascatrauma, dan gangguan bipolar atau skizofrenia,” kata juru bicara WHO, Catalin Bercaru kepada Arab News. “Dampak psikososial dan sosial dari keadaan darurat mungkin akut dalam jangka pendek, tetapi juga dapat merusak kesehatan mental dan psikososial jangka panjang dari populasi yang terkena dampak.”

Bercaru menambahkan bahwa saat ini WHO melatih setidaknya 8.000 dokter dan 1.000 perawat untuk penyakit terkait kesehatan mental dalam dua tahun terakhir. Namun masalah meningkat di antara populasi yang terkena dampak darurat, akibat pandemi Covid-19 yang diperkirakan berdampak masif terhadap kesejahteraan mental pengungsi

“Hingga saat ini, 291 tenaga profesional yang bekerja di kamp dan fasilitas pemerintah memperoleh manfaat dari pelatihan tersebut,” tambah Bercaru.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here