Wanita asal Indonesia Jadi Uji Kasus UU Terorisme Kontroversi Baru Filipina

Militer Filipina berjaga di lokasi ledakan bom, Jolo. Foto: Aljazeera

Indonesiainside.id, Manila – Filipina mengumumkan bahwa tersangka bom bunuh diri asal Indonesia yang ditangkap di Sulu empat hari lalu, akan menjadi uji kasus untuk undang-undang anti-teror (ATL) yang baru ditandatangani Presiden Rodrigo Duterte.

“Ini adalah kasus besar pertama, di mana pelaku yang dicurigai sebagai teroris asing dituduh melanggar undang-undang anti-terorisme baru kami,” kata Menteri Kehakiman Menardo Guevarra kepada Arab News.

Dia menambahkan bahwa Dewan Anti-Terorisme menyetujui penerapan aturan dan regulasi (IRR) untuk Undang-Undang Anti-Terorisme 2020 (ATA) yang kontroversial, yang ditandatangani Presiden Rodrigo Duterte pada Juli lalu. “Jaksa provinsi Sulu diberitahu bahwa IRR dari ATL disetujui oleh Dewan Anti-Terorisme hari ini,” tambahnya.

Wanita asal Indonesia, Nana Isirani, yang juga dikenal sebagai “Rezky Fantasya Rullie” atau “Cici,” ditangkap di sebuah rumah di Jolo, Sulu, di mana pasukan pemerintah juga menyita sejumlah rompi bunuh diri dan komponen bom. Rullie ditangkap bersama dua wanita lain yang diyakini sebagai istri anggota Kelompok Abu Sayyaf (ASG).

Sebelumnya, pihak militer menjelaskan bahwa Rullie yang sedang hamil mengajukan diri untuk melakukan serangan bunuh diri setelah melahirkan, untuk membalas dendam atas kematian suaminya, Andi Baso, seorang militan asal Indonesia yang dilaporkan tewas dalam bentrokan dengan pasukan pemerintah pada 29 Agustus di kota Patikul Sulu.

Sementara itu, Guevarra juga mendukung pernyataan Senator Panfilo Lacson pada Selasa (13/10), bahwa penangkapan Rullie akan menjadi kasus uji coba yang baik bagi ATL, yang salah satu ketetapannya, bisa menghukum pelaku pelanggaran “inchoate” (percobaan terorisme).

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here