Amerika dan Rusia Berupaya Perpanjang Perjanjian Pengendalian Senjata Nuklir

Ilustrasi. RomoloTavani/iStock

Indonesiainside.id, Jakarta – Presiden Donald Trump sebelumnya dikabarkan menolak usulan perpanjangan pengendalian senjata nuklir dengan Rusia. Namun, jelang pilpres Amerika Serikat yang akan digelar beberapa pekan lagi, putusan itu berubah.

Mengutip NHK, Rabu(21/10), Amerika Serikat (AS) dan Rusia menyampaikan niatnya untuk memulai pembicaraan perpanjangan satu tahun atas pakta pengendalian senjata nuklir yang masih berlaku antara dua negara tersebut.

Departemen Luar Negeri AS merilis sebuah pernyataan pada Selasa (20/10) sesaat setelah Kementerian Luar Negeri Rusia mengumumkan bahwa pihaknya telah mengusulkan perpanjangan satu tahun pada Pakta START Baru atau perjanjian pengurangan senjata strategis.

AS mengapresiasi keinginan Rusia untuk membuat kemajuan pada pengendalian senjata nuklir dan bahwa AS “siap untuk bertemu segera guna merampungkan kesepakatan yang dapat diverifikasi.”

Rusia mengatakan dalam pernyataan kementerian luar negerinya siap untuk membekukan jumlah total hulu ledak nuklirnya dalam periode satu tahun.

Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya mengusulkan satu tahun perpanjangan tanpa syarat pakta tersebut.

Pakta START Baru berakhir Februari mendatang, tetapi pembicaraan bilateral untuk perpanjangan perjanjian ini menemui hambatan.

Moskow menentang usulan dari Washington atas kerangka kerja baru yang akan mencakup senjata nuklir taktis sebagai tambahan ke dalam hulu ledak strategis.

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump bersikeras bahwa China seharusnya ikut dalam perjanjian ini.(EP)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here