Protes Sudan Terhadap Kondisi Kehidupan yang Mengerikan Berubah Mematikan

Aksi protes di Sudan. Foto: Net

Indonesiainside.id, Jakarta – Para pengunjuk rasa turun ke jalan di ibu kota Sudan dan di seluruh negeri karena kondisi kehidupan yang mengerikan dan tindakan represif aparat yang mematikan terhadap para demonstran.

Laman Africanews, Jumat(23/10) melaporkan, aksi demonstrasi di Sudan berubah mematikan setelah satu orang dilaporkan tewas dan belasan lainnya terluka, menurut keterangan sekelompok dokter yang terkait dengan gerakan yang menyebabkan jatuhnya Presiden Omar al-Bashir.

Demonstrasi besar-besaran terjadi pada hari Rabu di kota Kharthoum dan Omdurman karena situasi ekonomi negara yang memburuk. Para pengunjuk rasa juga menuntut keadilan bagi ratusan orang yang terbunuh selama pemberontakan 2019, yang menyebabkan Bashir digulingkan.

‘Kami menuntut kebebasan, perdamaian dan keadilan,” kata pengunjuk rasa.

Saksi mata mengatakan polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan pertemuan kecil sekitar 100 pengunjuk rasa.

“Belum ada hukuman untuk para martir,” kata seorang pengunjuk rasa.

“Kami menuntut kebebasan, perdamaian dan keadilan dan tidak mencapai perdamaian, baik kebebasan maupun keadilan.”lanjutnya.

Sudan telah memulai transisi tiga tahun yang sulit ketika di bawah pemerintahan gabungan sipil-militer dan di tengah kesulitan ekonomi yang parah dan meroketnya harga barang di konsumen.

Inflasi tinggi dan berkurangnya nilai mata uang membuat orang-orang merasa kesulitan bahkan hanya untuk membeli kebutuhan dasar sehari-hari. Antrian panjang di luar toko bahan makanan juga menjadi hal biasa, begitu pula pemadaman listrik yang bisa terjadi hingga enam jam.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here