Singgung Pembantaian Puluhan Ribu Muslim Aljazair oleh Prancis, Hizbullah: Kebebasan yang Diusung Macron Berstandar Ganda

Sayyed Hassan Nasrallah

Indonesiainside.id, Beirut – Sekretaris jenderal gerakan perlawanan Hizbullah Lebanon mengutuk pernyataan Islamofobia presiden Prancis, dengan mengatakan kebebasan berekspresi didasarkan pada standar ganda di sana.

Sayyed Hassan Nasrallah membuat pernyataan dalam pidato yang disiarkan televisi pada kesempatan ulang tahun Nabi Muhammad SAW pada hari Jumat, sehari setelah seorang penyerang melancarkan serangan pisau di sebuah gereja di kota selatan Prancis, Nice, memenggal kepala seorang wanita dan menikam sampai mati dua orang lain.

Serangan mematikan itu terjadi beberapa hari setelah penyerang lain memenggal kepala Samuel Paty, seorang guru sejarah, yang telah menggunakan kartun Nabi Muhammad SAW di kelas kewarganegaraan di ibu kota Paris.

Serangan Paris mendorong Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk mengatakan bahwa dia akan melawan “separatisme Islam,” yang menurutnya mengancam untuk mengambil kendali di beberapa komunitas Muslim di seluruh Prancis.

Pemimpin Prancis itu juga membela penayangan kartun yang menghina di sekolah-sekolah di seluruh negara Eropa dan menganggap langkah yang sangat provokatif sejalan dengan kebebasan berekspresi, sebuah tindakan yang telah membuat marah umat Islam di seluruh dunia.

“Apa pesan yang ingin dikirim oleh otoritas Prancis kepada Muslim dengan bersikeras mengizinkan kartun yang menghina Islam?” Nasrallah berkata, jaringan televisi al-Manar yang terkait dengan Hezbollah melaporkan.

“Alih-alih menangani akar penyebab masalahnya, pihak berwenang Prancis mengobarkan perang semacam ini, mengklaim bahwa ini adalah masalah kebebasan berbicara,” tambahnya.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here