Prancis Sensor Kartun Menterinya di Charlie Hebdo, Turki: Munafik dan Standar Ganda

Para pengunjuk rasa membakar foto Presiden Prancis Emmanuel Macron saat demonstrasi menyerukan boikot produk Prancis di Medan, Sumatera Utara, Indonesia pada 6 November 2020. Langkah tersebut merupakan tanggapan atas pernyataan anti-Islam yang kontroversial baru-baru ini. dibuat oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron. (Kiki Cahyadi - Anadolu Agency)

Indonesiainside.id, Ankara – Kebebasan di Prancis tidak sepenuhnya bebas untuk mengekspresikan pendapat. Meski bebas menghina agama atas nama kebebasan, ternyata mereka tidak boleh menghina pejabat negara.

Contoh kasus ini terjadi pada penayangan karikatur oleh majalah satir Charlie Hebdo yang menghina Islam dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Pemerintah memberikan pembelaan kepada Charlie Hebdo sebagai kebebasan berekspresi. Namun, Prancis malah menyensor kartun Menteri Pendidikan Jean-Michel Blanquer.

Menurut Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu, ini adalah contoh kemunafikan dan standar ganda. “Ini adalah contoh yang tepat dari kemunafikan dan standar ganda,” kata Menlu Mevlut Cavusoglu pada konferensi pers setelah pertemuan informal para menteri luar negeri Proses Kerjasama Eropa Tenggara (SEECP) di provinsi Antalya.

Cavusoglu mengatakan Eropa mulai menampilkan “standar ganda ini” secara terbuka dengan dalih solidaritas di dalam Uni Eropa (UE) atau mendukung negara-negara anggota.

Dia mengatakan meski serangan terhadap nilai-nilai ketuhanan dipandang sebagai kebebasan berekspresi, kritik kecil terhadap diri mereka sendiri dianggap sebagai serangan oleh negara-negara ini.

“Kami menentang semua jenis diskriminasi dan rasisme. Kami melihat semuanya sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan,” tegas Cavusoglu.

Bulan lalu, Presiden Prancis Emmanuel Macron menggambarkan Islam sebagai “agama dalam krisis”, dan mengumumkan rencana undang-undang yang lebih ketat untuk menangani “separatisme Islam” di Prancis.

Ketegangan semakin meningkat setelah seorang guru sekolah menengah, Samuel Patty, yang menunjukkan kartun penghinaan Nabi Muhammad di kelas, dibunuh pada 16 Oktober.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here