Hima Persis: Tiongkok Harus Belajar dari Indonesia Soal Keragaman

Penindasan terhadap muslim Uighur telah berlangsung sejak lama, namun peningkatan kampanye gebuk keras atau Strike Hard pemerintah Tiongkok dimulai di Xinjiang pada tahun 2014.

Indonesiainside.id, Jakarta — Pemerintah Tiongkok diduga sedang melakukan pelanggaran HAM secara massal dan sistematis terhadap muslim Uighur Xinjiang di barat laut Tiongkok, kata Human Rights Watch dalam sebuah laporan di tahun 2017.

Akibatnya, sekitar 13 jutaan orang dipaksa menjalani indoktrinasi politik, hukuman kolektif, pembatasan gerak dan komunikasi, pengekangan agama yang meningkat, serta pengawasan massal yang melanggar hukum hak asasi manusia internasional.

Sekretaris Jenderal Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (Hima Persis) Ceceng Kholiluloh angkat bicara soal pelanggaran HAM luar biasa ini. Menurutnya, kejahatan terhadap muslim Uighur adalah kejahatan kemanusiaan yang paling ekstra.

Karena itu, pihaknya mengutuk keras atas nama agama Islam dan kemanusiaan terhadap tindakan yang dilakukan pemerintah Tiongkok kepada muslim Uighur tersebut.

“Pemerintah China harus belajar makna toleransi dalam keragaman dari Indonesia,” ujarnya di Jakarta, Rabu (19/12).

Sementara, Direktur Human Rights Watch China Sophie Richardson mengatakan, Pemerintah Tiongkok melakukan pelanggaran hak asasi manusia di Xinjiang dalam skala yang belum pernah terlihat di negara itu dalam beberapa dekade.

“Sebetulnya penindasan terhadap muslim Uighur telah ada sejak lama, namun peningkatan kampanye gebuk keras atau Strike Hardmelawan Ekstremisme Kejam pemerintah Tiongkok dimulai di Xinjiang pada tahun 2014,” katanya.

Diketahui, tingkat penindasan meningkat secara dramatis setelah Sekretaris Partai Komunis Chen Quanguo pindah dari Daerah Otonomi Tibet untuk mengambil alih kepemimpinan Xinjiang pada akhir 2016.

Sejak itu, pemerintah Tiongkok telah meningkatkan penahanan massal secara sewenang-wenang, termasuk di pusat-pusat penahanan praperadilan dan penjara, yang keduanya merupakan fasilitas resmi, dan di kamp-kamp pendidikan politik, yang tak berdasar di bawah hukum Tiongkok.

Perkiraan yang dapat dipercaya menunjukkan bahwa satu juta orang ditahan di kamp-kamp tersebut untuk belajar bahasa Mandarin, menyanyikan pujian kepada Partai Komunis Tiongkok, dan menghafal aturan yang berlaku terutama bagi Muslim Uighur. Mereka yang menolak atau dianggap gagal “belajar” akan dihukum.

(Ahmad Z.R)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here