Natalius Pigai: Di Jawa Tengah, Prabowo Berpotensi Unggul

Jika dicermati, probabilitas perolehan suara Prabowo berpotensi besar karena adanya suara Sutiyoso yang dikecewakan Jokowi di Gunung Pati, Semarang, yang merupakan basis pemilih rasional.

Indonesiainside.id, Jakarta — Mantan Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai mengatakan aroma kemenangan Prabowo-Sandi semakin besar usai Prabowo, SBY dan Keluarga serta Partai Demokrat melakukan pertemuan di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan.

“Sudah bisa dipastikan bahwa wilayah Mataraman (Malang, Ngawi, Madiun, Pacitan, Blitar, Sragen, Solo, Kartosuro dan Wonogiri) yang diklaim basis Jokowi, dipastikan terbagi dua antara Prabowo dan Jokowi. SBY adalah tokoh utama wilayah Mataraman yang masih di segani,” kata Pigai.

Pertemuan di kediaman SBY di Jalan Mega Kuningan Timur VII itu berlangsung selama tiga jam. Sejumlah petinggi Gerindra dan tim sukses Prabowo-Sandi ikut merapat. Pertemuan itu dalam rangka membahas strategi memenangkan Pileg dan Pilpres.

Lebih lanjut Pigai memaparkan bahwa Banyumas dan Bageleng (Purwokerto, Tegal, Brebes, Banyumas, Kebumen, Cilacap dan lain-lain) merupakan basis Prabowo.

“Tinggal perebutan Keresiden Kedu (Magelang, Wonosobo) dan Semarang, Demak, Rembang yang basis santri harus difokuskan,” katanya.

Namun, kata dia, jika dilihat secara cermat, maka probabilitas perolehan suara Prabowo berpotensi besar karena suara Sutiyoso yang dikecewakan Jokowi di Gunung Pati, Semarang yang merupakan basis pemilih rasional. “Demak dan Rembang mungkin Prabowo karena dukungan umat muslim dan ulama,” ujarnya.

Sedangkan Cepu, Grobogan dan Blora tentu saja suara akan beralih ke Prabowo karena dua hal. Yaitu pembangunan Pabrik Semen di Gunung Kendeng yang merusak ekosistem karst dan kehidupan budaya Samin oleh Ganjar Pranowo dan Pemerintah Jokowi. Bahkan almarhumah Ibu Fatmi seorang petani Blora yang mati di saat cor kaki di Istana Negara karena menolak pabrik semen.

“Dengan demikian Jawa Tengah Prabowo berpotensi unggul nasar atau kedua Capres imbang,” tandasnya.

Sementara, inisiator Gerakan 2019 Ganti Presiden, Mardani Ali Sera menuturkan, di politik pengaruh tokoh masih dominan. Pertemuan Prabowo dan SBY ibarat pertemuan dua tokoh nasional yang menyatukan dua kekuatan. Efeknya besar.

Walau dalam era masyarakat yang kian demokratis yang menguat bukan connecting tapi experiencing. Pengalaman berinteraksi itu yang kuat. “Saran SBY agar Prabowo lebih aktif berkampanye adalah nasehat bijak yang perlu dibuktikan di lapangan,” ujarnya.

(Ahmad Z.R.)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here