Pesisir Lampung dan Banten Dihantam Tsunami

Erupsi Gunung Anak Krakatau dan gelombang tinggi memicu tsunami di Selat Sunda. Data sementara, 26 orang tewas, 300-an luka berat dan ringan. Puluhan rumah, hotel, dan kendaraan rusak.

Indonesiainside.id, Jakarta — Gelombang setinggi lima meter di perairan Selat Sunda menghantam pesisir Lampung Selatan, Provinsi Lampung, serta pesisir Pandeglang dan Serang, Provinsi Banten, Sabtu malam (22/12), menyebabkan kerusakan dan korban jiwa. Data sementara hingga pagi ini, Minggu (23/12), tercatat 26 orang meninggal, 300-an luka berat dan ringan. Sementara puluhan rumah, hotel dan kendaraan rusak diterjang gelombang yang datang tiba-tiba itu.

Kabupaten Pandeglang merupakan daerah terdampak paling parah, yang meliputi Kecamatan Carita, Labuan, dan Panimbang. Dari daerah ini dilaporkan 23 orang meninggal, 280 luka berat ringan. Sementara di Kabupaten Lampung Selatan dilaporkan tiga orang meninggal dan belasan luka-luka. Jumlah korban diperkirakan masih akan bertambah mengingat belum semua daerah terdampak didata.

Saat gelombang menerjang, ribuan warga pesisir Pandeglang berlarian ke tempat-tempat yang lebih tinggi, dan mengungsi di mesjid-mesjid. Mereka masih bertahan di pengungsian karena khawatir adanya gelombang tinggi susulan. Kepanikan juga sempat melanda para wisatawan yang hendak ke tempat-tempat wisata di Anyer, Serang. Mereka terjebak kemacetan parah. Sementara warga Lampung yang sempat mengungsi ke Kantor Pemda setempat, pagi ini berangsur-angsur kembali ke kediaman masing-masing dengan diangkut dua bus.

Yudi, warga Cigodang, Kecamatan Labuan, menuturkan, saat kejadian ia tengah duduk-duduk di halaman rumah yang berjarak 200 meter dari pantai. Tiba-tiba air pasang menerjang dan merobohkan rumahnya, juga rumah-rumah tetangganya. Ia pun bersama keluarganya berlarian menyelamatkan diri, mengungsi ke Masjid Jami Al Mukmin. “Kami tidak terbayang (akibatnya) jika tengah tidur, karena gelombang pasang itu cukup tinggi, hingga lima meter,” tuturnya kepada Antara.

Penjelasan pihak Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gelombang tinggi di Selat Sunda tersebut diduga diakibatkan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan longosor bawah laut, di samping memang adanya potensi gelombang tinggi akibat cuaca. Potensi gelombang tinggi ini telah terdeteksi akan melanda Selat Sunda dari tanggal 22-25 Desember. Nah, pada Sabtu malam (22/12) pukul 21.03, terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau.

Menurut Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dua peristiwa itu, yaitu gelombang tinggi dan erupsi Gunung Anak Krakatau merupakan dua peristiwa berbeda tapi terjadi di waktu yang sama di lokasi yang sama . Dua kombinasi itu menyebabkan gelombang tinggi yang tiba-tiba menerjang pantai.“Setelah dianalisis lebih lanjut, gelombang itu merupakan gelombang yang mengakibatkan tsunami,” kata Dwikorita. Hingga saat ini, BMKG masih menyelidiki faktor utama penyebab tsunami tersebut untuk mengetahuinya secara pasti.

(Norman TA)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here