Refleksi Indonesia 2018, Menyisakan Banyak Persoalan

Kedua, menguatnya egosentrisme/bangkitnya primordialisme.

Ketiga adalah gaibnya keadilan. Ketidakadilan ekonomi sangat terasa pada dunia bisnis. Sembilan puluh tujuh persen lebih pelaku usaha di Indonesia adalah UMKM, namun akses UMKM terhadap Lembaga Keuangan formal hanya 30%.

Sementara itu, usaha besar yang jumlahnya kurang dari 3% menguasai akses permodalan hingga 70%. Di sisi lain, ketimpangan sangat memprihatinkan ketika 1% orang terkaya menguasai 46,6% total kekayaan penduduk. Dan 10% orang terkaya menguasai 75,3% total kekayaan seluruh rakyat. Ketimpangan juga terjadi, ketika 70% bahan baku perekonomian adalah produk impor.

Keempat ialah raibnya keadaban publik. Masyarakat Indonesia yang selama ini dikenal sebagai bangsa yang sopan santun, ramah tamah dan penuh keadaban sekarang ini sebagian terjebak ke dalam perilaku kekerasan dan bentuk-bentuk ketidakadaban lainnya.

Hal ini ditandai dengan adanya persekusi oleh sekelompok orang terhadap lainnya, kriminalisasi lawan politik, pembegalan di jalan raya, dan bahkan ketakadaban menguasai ruang publik di media sosial dan ruang-ruang dialog televisi.

Kelima adalah ketidakpastian dan ketidakadilan hukum. Menurutnya, selama tahun 2018 penegakan hukum untuk kepastian dan keadilan hukum masih merupakan masalah serius yang sering disebut dalam ungkapan “Tajam ke bawah, tumpul ke atas”. Hal tersebut ditandai, antara lain, oleh kasus-kasus hukum yang berskala besar dan melibatkan elit politik nyaris tak tersentuh, bahkan, dilupakan.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here