Teknologi Alpahankam Tidak Boleh Tergantung Negara Lain

FOTO ANTARA/Eric Ireng/ss/hp/08.

KKIP terus mendorong kemandirian dan penguatan industri pertahanan dalam negeri sehingga dapat membangun Alpalhankam yang mandiri.

Indonesiainside.id, Jakarta — Ketua Tim Pelaksana Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Laksamana TNI (Purn) Sumardjono menegaskan, teknologi alat peralatan pertahanan dan keamanan (Alpalhankam) Indonesia tidak boleh bergantung dengan negara lain.

Karena itu, menurut Laksamana Sumardjono, KKIP terus mendorong kemandirian dan penguatan industri pertahanan (indhan) dalam negeri sehingga dapat membangun Alpalhankam yang mandiri.

“Kalau kita tidak mengarah penguasaan teknologi Alpalhankam maka kekuatan kita ditentukan negara lain,” kata Sumardjono dalam diskusi di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Jumat (27/12).

Dia menilai kemandirian Alpalhankam dalam negeri sangat penting karena dapat memunculkan efek penangkal/deteren absolut karena mampu membuat produksi Alpalhankam Indonesia tidak bisa diperkirakan negara lain.

Sumardjono mengatakan, teknologi akan mewarnai postur pertahanan karena ketika teknologi berubah maka postur pertahanan akan diikuti perubahan postur, struktur dan strategi pertahanan.

“Dalam sistem pertahanan, terdapat doktrin pertahanan, strategi pertahanan, postur, struktur dan teknologi pertahanan. Namun teknologi akan mewarnai pertahanan sehingga bisa berpengaruh pada sistem pertahanan suatu negara,” ujarnya.

Dia mencontohkan, di masa lalu Amerika Serikat (AS) menempatkan pasukannya di beberapa negara seperti di Jepang dan Filipina namun saat ini dikurangi serta diganti dengan satelit.

Mayoritas impor
Sementara itu, Kepala Bidang Alih Teknologi dan Ofset KKIP, Laksda TNI (Purn) Rahmat Lubis menyoroti penyerapan anggaran alat utama sistem senjata (alutsista) Indonesia dalam Indhan yang masih rendah diserap Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan lebih banyak impor.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here