PNTI: Mitigasi Bencana Penting Dilakukan

Pembina Persatuan Nelayan Tradisional Indonesia, Aguy Kartasasmita. Foto : Ahmad ZR

Mitigasi bencana sangat diperlukan untuk memberikan peringatan dini datangnya tsunami.

Indonesiainside.id, Lampung — Tsunami yang menerjang pesisir pantai di sekitar Selat Sunda pada 22 Desember 2018 lalu sedikitnya telah mengakibatkan 350 perahu nelayan rusak di provinsi Banten.

Kerusakan dermaga juga dialami oleh kedua provinsi itu menyebabkan kapal-kapal tidak lagi dapat bersandar di pesisir Lampung Selatan dan Banten.

Pembina Persatuan Nelayan Tradisional Indonesia (PNTI) Aguy Kartasasmita menuturkan pihaknya sangat terpukul dengan bencana tsunami Selat Sunda. Selain korban jiwa, ia menyebut ada 96 kapal ketingting hilang diterjang air laut.

“Selain kehilangan anggota keluarganya, kita kehilangan banyak sarana kapal yang biasa digunakan para nelayan,” ujarnya kepada Indonesiainside.id di rumah dinas Pemerintah Kabupaten Lampung di bilangan Kalianda, Lampung Selatan, Lampung, Sabtu (29/12).

Menurut dia, mitigasi bencana merupakan hal yang penting dilakukan untuk memberikan peringatan dini datangnya tsunami. Karenanya, pihaknya akan menyampaikan data akurat kepada Pemkab Lamsel terkait dampak bencana untuk dijadikan pertimbangan dalam mengambil kebijakan tentang mitigasi.

“Yang kita utamakan juga safety-nya dan early warning system. Sayangnya kemarin tidak sempat ada peringatan. Bisa dibilang tsunami ini lain dengan yang lain, terjadinya karena runtuhnya sebagian anak krakatau. Sehingga bertepatan dengan gelombang pasang bulan purnama dan banyak kapal nelayan terdampar,” jelasnya.

Konsep early warning system, menurut Aguy adalah peringatan dini dan mitigasi dari pemerintah terkait pemahaman kebencanaan. “Jadi (ketika ada peringatan) semua orang dapat melihat dan lari ke gunung,” ujar dia.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here