LPA Generasi: Pemerintah Gagap Mitigasi Bencana

Ketua LPA Generasi Ena Nurjanah. Foto: Dok. Pribadi.

Seminggu sudah bencana tsunami yang menimpa Provinsi Banten, namun masih banyak korban yang belum tersentuh akses bantuan. Sulitnya medan untuk menjangkau wilayah terdampak bencana menjadi salah satu sebab.

Indonesiainside.id, Jakarta — Ketua Lembaga Perlindungan Anak Generasi Ena Nurjanah mengatakan, infrastruktur yang buruk selalu dijadikan alasan bagi pemerintah setempat maupun pusat untuk menyatakan betapa sulitnya penanganan terhadap korban. Padahal, seharusnya pemerintah menyadari bahwa kondisi tersebut tidak lepas dari abainya pemerintah terhadap pembangunan di wilayah tersebut.

Beberapa wilayah di Banten yang masih terisolir adalah Cihanggas, Kertajaya, Cipining, Ketapang, Cigerondong, Tamanjaya, dan Paniis. Desa/dusun ini masih sangat minim mendapat bantuan dari pemerintah. Pasokan makanan, susu untuk bayi, tidur di tenda bersama dengan alas seadanya sementara cuacapun masih belum bersahabat. Ketakutan yang masih menghantui mereka, tidak hanya anak-anak bahkan para orangtua pun belum berani tidur di rumah mereka karena takut potensi tsunami dan juga karena berita hoax yang merajalela di tengah situasi kebencanaan.

“Uluran tangan bagi korban bencana kebanyakan berasal dari kalangan relawan suatu lembaga masyarakat. Bantuan pun seringkali lebih banyak diperuntukkan bagi orang dewasa, sementara kebutuhan anak-anak dan bayi sangat minim. Bahkan ada relawan yang mengatakan ketersediaan stok susu sudah habis sampai di kawasan Serang,” ujar Ena di Jakarta, Ahad (30/12).

Bencana alam yang terjadi di wilayah Banten bukanlah kejadian yang baru pertama kali. Namun, penanganan terhadap korban bencana masih tetap gagap. Masih saja kurang kesigapan menyegerakan bantuan terhadap korban. Anak-anak selalu menjadi korban yang paling menderita. Dalam keadaan bencana kebutuhan dan hak anak-anak akan semakin tereduksi.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here