Poso Memanas

Pengamat terorisme dan intelijen, Harits Abu Ulya. Foto: Istimewa.

Operasi terlalu lama dinilai juga bisa kontra produktif terhadap kehidupan sosial, ekonomi dan psikologi masyarakat.

Indonesiainside.id, Jakarta — Di pengujung tahun 2018 terjadi kontak senjata antara kelompok Ali Kalora dengan aparat kepolisian di wilayah pegunungan sekitar Poso (Parigi). Pengamat terorisme dan intelijen Harits Abu Ulya menyebutkan kekuatan kelompok Ali Kalora tidak sekuat opininya di media. Menurut dia, kekuatan kelompok Ali Kalora saat ini tinggal sekitar 20 orang. Pasca-tsunami Palu ada indikasi jumlahnya bertambah dari sebelumnya yang kurang dari 20 orang.

“Mereka selama ini bertahan gerilya di sekitar pegunungan Poso (Parigi). Kelompok Ali Kalora melanjutkan jejak sosok sebelumnya yakni Santoso dengan keterbatasan senjata dan amunisi mereka cukup menguasai medan pegunungan dan ini menjadi salah satu keunggulan mereka,” ujarnya di Jakarta, Rabu (2/12).

Meski demikian, kata Harits, aparat gabungan TNI-Polri lebih unggul dari sisi jumlah personil, logistik, persenjataan dan pengetahuan strategi tempurnya terutama bagi prajurit TNI.

Harits menjelaskan, peta kekuatan yang tidak sebanding di atas akan menjadi persoalan bagi aparat kepolisian-TNI jika kelompok Ali Kalora mendapat basis dukungan dari masarakat sipil di wilayah Poso dan sekitarnya. Karena ketahanan eksistensi mereka juga sangat bergantung kepada suplai logistik yang mereka butuhkan.

“Logistik ini bisa saja didapat dari simpatisan atau jejaring mereka yang di bawah (masyarakat) atau sumber-sumber dan cara lainnya,” katanya.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here