BMKG Gunakan Deteksi Berbasis Modelling

Deputi Bidang Fisika BMKG Muhammad Sadly. Foto: Ahmad Z.R

Pemodelannya berbasis artificial intelligence.

Indonesiainside.id, Jakarta — Indonesia berada di jalur gempa teraktif di dunia karena dikelilingi oleh Cincin Api Pasifik dan berada di atas tiga tumbukan lempeng benua, yakni Indo-Australia dari sebelah selatan, Eurasia dari utara, dan Pasifik dari timur.

Deputi Bidang Fisika BMKG Muhammad Sadly mengatakan, hal tersebut menjadikan potensi bencana datang kapan saja tanpa diduga, meski dilengkapi dengan alat deteksi tsunami.

“Artinya, 75 persen wilayah Indonesia berpotensi terjadi bencana. Maka, yang harus dilakukan adalah mitigasi. Mitigasi itu mulai dari masyarakatnya, infrastruktur tempat evakuasi. Seperti di Sumatera Barat yang telah menyiapkan shelter. Shelter itu bisa dibangun pemerintah daerah dekat pantai,” ujarnya usai diskusi ‘Mitigasi Bencana Masih Jadi PR’ di kantor Jitunews.com, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (3/1).

Selain itu, Sadly juga menyoroti tata ruang wilayah dekat lokasi kemungkinan terjadi bencana. BMKG merekomendasikan agar jarak masyarakat minimal satu kilometer untuk kewaspadaan zonasi rawan bencana tsunami.

“Nah, jarak jangkauan ke jarak hampir sekitar satu kilometer. Namun bukan berarti tidak ada aktivitas. Kita harus tetap waspada zona rawan
bencana untuk keselamatan,” katanya.

Merespon tawaran Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggunakan laser lewat kabel fiber optik dalam mendeteksi tsunami sehingga bisa mempercepat mitigasi, Sadly menyebut pihaknya juga memiliki laser deteksi gempa tektonik. Ia menjelaskan bahwa BMKG adalah lembaga operasional yang siap memfasilitasi hasil karya anak bangsa.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here