BMKG Miliki 18.000 Skenario Gempa Tektonik

Suasana diskusi 'Mitigasi Bencana Masih Jadi PR' di kantor Jitunews.com, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (3/1). Foto: Ahmad Z.R

Namun, tak ada satupun skenario yang mengantisipasi gempa non-tektonik.

Indonesiainside.id, Jakarta — Setelah bencana tsunami Aceh dan Sumatera Utara tahun 2004, di Indonesia dipasang sistem peringatan dini tsunami dengan bantuan dana dari Jerman dan di bawah koordinasi pusat penelitian geologi Geoforschungszentrums (GFZ) di Potsdam.

Nyatanya, sistem peringatan dini tsunami tersebut tidak dapat berfungsi dengan baik. Terakhir, di pengujung tahun 2018, tsunami Selat Sunda tak dapat dideteksi lebih awal. Bahkan, awalnya BMKG bukan menyebutnya sebagai tsunami, melainkan air pasang laut.

Deputi Bidang Fisika BMKG Muhammad Sadly menjelaskan, tsunami terdiri dari dua komponen. Yakni komponen struktural dan komponen kultural. Ia menegaskan lagi, tsunami Selat Sunda bukan disebabkan oleh gempa tektonik. Selebihnya ialah longsor dan erupsi gunung. Karena itu, pihaknya terus berupaya melakukan mitigasi dengan terus mensosialisasikan melalui evakuasi mandiri.

“Kami selalu komunikasi, koordinasi dan FGD dengan beberapa pihak terkait dari teman-teman di institusi terkait. Masyarakat dapat mendownload aplikasi Info BMKG. Kita punya 18.000 skenario, tapi belum ada untuk gempa non-tektonik,” ujar Sadly dalam diskusi ‘Mitigasi Bencana Masih Jadi PR’ di kantor Jitunews.com, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (3/1).

Namun, yang tak kalah penting, kata dia, adalah mengoptimalkan pemerintah daerah dalam mengalokasikan anggaran untuk pelatihan kebencanaan. Selain itu, penegakan aturan tata ruang bangunan masyarakat penting untuk diperhatikan agar tidak membangun di sembarang tempat.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here