Hendri Satrio: Politik Adalah Bisnis Harapan

Pakar Komunikasi Politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio (kiri), dalam sebuah diskusi politik di Jakarta, Rabu (9/1). Foto: Ahmad Z.R.

Oleh Ahmad Z.R.

Masyarakat menaruh banyak harapan kepada pemimpin yang mampu mengakomodasi aspirasi dan kebutuhannya.

Indonesiainside.id, Jakarta — Pakar Komunikasi Politik dari Universitas Paramadina Jakarta, Hendri Satrio, menilai bahwa proses politik terjadi karena dua hal. Pertama, tren. Kedua, rekayasa.

“Banyak milenial yang swing voters (pemilih mengambang). Maka, milenial rata-rata menanyakan atau mendengarkan nasihat ibunya. Jadi yang harus diperebutkan suara milenial atau suara emak-emak?,” tanya Hendri berseloroh dalam sebuah diskusi politik di bilangan Salemba, Jakarta, Rabu (9/1).

Menurut Hendri, tren bisa direkayasa, begitupun rekayasa juga tergantung trennya. Maka ia kembali mempertanyakan apakah tren atau rekayasa yang lebih dipercaya oleh masyarakat karena keduanya pernah terjadi.

“Pak Jokowi itu rekayasa atau bukan? Kalau kubunya Pak Jokowi bilang itu tren, rakyat menginginkan sosok pemimpin yang sederhana. Sedangkan kubu oposisi bilangnya itu rekayasa, pencitraan,” kata Hendri.

“Hoaks, pencitraan, sandiwara politik, drama politik, itu sama saja. Nggak ada yang otentik, semuanya tidak asli. Cuma mungkin levelnya saja beda-beda, ada yang bisa dilaporin ada yang nggak. Kalau pencitraan kan susah dilaporin,” sambungnya.

Hendri tak menampik meski petahana banyak melakukan pencitraan, namun hal itu tak berpengaruh signifikan terhadap elektabilitasnya. Ia menilai politik adalah bisnis harapan. Siapa yang banyak memberikan harapan dan mampu merealisasikannya, maka rakyat tetap menaruh kepercayaan dan memilihnya kembali pada kontestasi berikutnya.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here