BMKG: Waspada Gempa Selat Sunda

Oleh: Rengga Permana

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa beruntun di Selat Sunda pada 10 dan 11 Januari 2019 tak berdampak signifikan pada kenaikan permukaan air laut.

Indonesiainside.id, Banten — Deputi Bidang Geofisika BMKG, Muhamad Sadly menyebut, meski tak menyebabkan tsunami namun potensi air pasang tersebut masih ada. Sebab ada tiga sumber tsunami di Selat Sunda, yakni Kompleks Gunung Anak Krakatau (GAK), Zona Graben, dan Zona Megathrust.

“Atas dasar itulah hingga saat ini BMKG tetap memantau perkembangan kegempaan dan fluktuasi muka air laut di Selat Sunda,” kata Sadly di Jakarta, Sabtu, (12/01/2019).

Selain itu, BMKG juga mengimbau masyarakat mewaspadai zona bahaya dengan radius 500 meter. Tepatnya dari bibir pantai yang elevasi ketinggiannya kurang dari 5 meter.

Sadly merinci, Kompleks GAK terdiri dari Gunung Anak Krakatau, Pulau Sertung, Pulau Rakata dan Pulau Panjang. Kondisinya, gunung dan ketiga pulau tersebut tersusun dari batuan yang retak-retak secara sistemik akibat aktivitas vulkano-tektonik.

Ia menyebut kompleks itu rentan mengalami runtuhan lereng batuan (longsor) ke dalam laut, dan berpotensi kembali membangkitkan tsunami. Selain itu, Zona Graben yang berada di sebelah Barat-Barat Daya Kompleks GAK, juga merupakan zona batuan rentan runtuhan lereng batuan (longsor) dan berpotensi memicu gelombang tsunami.

“Sementara itu Zona Megathrust termasuk pula sebagai wilayah yg berpotensi membangkitkan patahan naik pemicu tsunami,” imbuh Sadly.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here