Rizal Ramli: Prabowo Harus Menang Dua Digit Jika Tidak Ingin Dicurangi

Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli (ketiga kiri) dalam diskusi 'Refleksi Malari, Ganti Nahkoda Negeri?' di Sekretariat Nasional Prabowo Sandi, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (15/1). Foto: Ahmad Z.R.

Oleh: Ahmad Z.R |

Resiko akibat kecurangan Pilpres akan sangat fatal dan memakan ongkos sosial yang sangat mahal. Bahkan dikhawatirkan dapat memancing kerusuhan.

Indonesiainside.id, Jakarta — Politikus Indonesia Rizal Ramli mengingatkan bahwa Pilpres 2019 harus dijalankan secara jujur, adil dan tidak ada kecurangan. Ia melihat Ketua KPU Arief Budiman tidak tegas dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

“KPU bukan bertindak sebagai wasit, tapi malah seolah-olah wasit yang ikut bermain. Nah, kami ingatkan rakyat kita ingin perubahan secara demokratis. Jangan sampai terjadi kecurangan yang luar biasa atau super kecurangan,” ujar Rizal usai diskusi ‘Refleksi Malari, Ganti Nakhoda Negeri?’ di Sekretariat Nasional Prabowo-Sandi, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (15/1).

Mantan Menko Perekonomian tersebut menyatakan, resiko yang terjadi akibat kecurangan Pilpres akan sangat fatal dan memakan ongkos sosial yang sangat mahal. Ia melihat indikasi tersebut salah satunya dari hak suara yang diberikan kepada orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

“Di luar negeri, anak di bawah 17 tahun tidak punya hak suara karena dianggap labil jiwanya. Orang gila statusnya lebih labil lagi di bawah anak 17 tahun. Kok dikasih hak pilih? Manipulasi dengan menyebut mereka difabel itu ngawur. Difabel itu fisik, seperti cacat tangan atau kaki, bukan jiwa,” katanya.

Menurut dia, ODGJ hanya memiliki kemampuan yang dapat dikendalikan selama lima menit, setelah itu ia akan kembali kepada gangguannya. Jika ODGJ diberikan hak pilih, kata Rizal, maka konsekuensinya harus dibantu dalam pencoblosan.

“Nah yang begini merusak image dari pemilu adil. Saya minta kawan saya, Mas Tjahjo (Kumolo) Mendagri, KPU membatalkan putusan ini. Karena kita akan jadi bahan tertawaan. Dimana di seluruh dunia orang gila diberikan hak pilih?,” tanyanya.

Rizal mengingatkan agar jangan ada pihak yang mencoba untuk melakukan kecurangan. Jika hal itu terjadi, maka dapat memancing kerusuhan yang lebih luas. “Saya ingatkan jangan sampai ada yang coba-coba melakukan kecurangan karena dapat berpotensi people power. Kalau memang kalah, ya terima saja,” tandasnya.

Mengenai rilis beberapa lembaga survei, yang menyebutkan bahwa Prabowo terpaut jauh dengan petahana, Rizal tak memusingkan hal itu. Menurut dia, banyak lembaga survei yang tidak kredibel dan partisan dalam menjalankan tugasnya.

“Jadi, lembaga survei ini jangan dipercaya. Mereka itu alat propaganda. Pada saat hebat-hebatnya Mas Jokowi hanya 52%. Kok sekarang ada lembaga survei yang merilis hingga 56%? Ini hanya akal-akalan untuk menjustifikasi kecurangan,” katanya.

Rizal menyebutkan, jika Prabowo-Sandi ingin menang, maka harus menang dua digit minimal di atas 10 persen. Sebab, jika kemenangan Prabowo hanya di bawah 10 persen, maka dapat disalip oleh kecurangan.

“Kunci kemenangan lain, pertama, militan. Kedua, militan, dan ketiga militan. Kalau mau dua digit harus bekerja di luar ekspektasi,” ujar Rizal.

Ia menuturkan, kultur penyelenggara masalah jika ada persoalan adalah membuat badan atau lembaga di atasnya. Padahal, hal tersebut tidak menyelesaikan masalah, namun justru menghabiskan banyak anggaran.

“Seharusnya KPU memilih orang yang berintegritas dan punya prinsip. Sehingga tidak terus menyelesaikan masalah dengan membuat lembaga baru. Ini tidak efektif. Kalau begitu terus kerjanya, Bawaslu kita kasih pesangon saja deh,” tandasnya. (TA)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here