Syarwan Hamid: Kedaulatan Indonesia Terancam

Duskusi "Refleksi Malari, Ganti Nakhoda Negeri?" di Cikini, Jakarta, Selasa (15/1). Foto : Ahmad Z.R./Indonesiainside.id

Oleh: Ahmad Z.R |

Ancaman tersebut dari sisi ketahanan, kemananan, sosial, dan politik. Banyaknya intervensi asing terhadap jalannya pemerintahan Indonesia dituding menjadi sebab.

Indonesiainside.id, Jakarta — Tepat 45 tahun lalu, peristiwa Malapetaka Limabelas Januari 1974 (Malari 1974) terjadi. Aksi tersebut merupakan gelombang protes rakyat terhadap derasnya investasi Jepang di Indonesia. Bagi para demonstran, modal asing yang beredar di Indonesia sudah berlebihan.

Sebagai refleksi dari acara tersebut, Sekretariat Nasional (Seknas) Prabowo-Sandi menyelenggarakan diskusi Selasa-an dengan tema ‘Refleksi Malari, Ganti Nakhoda Negeri?’ di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (15/1). Acara diskusi ini menghadirkan Mantan Mendagri Letjen TNI (Pur) Syarwan Hamid, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, dan Mantan Ketua MPR Amien Rais, dan ekonom Rizal Ramli.

Sebagai tokoh senior dalam pergerakan, Syarwan Hamid menjadi pembicara pertama dalam kesempatan tersebut. Dalam konteks hari ini, kata Syarwan, meski Presiden Jokowi memiliki beberapa prestasi, namun prestasi tersebut tidak dapat dibayar dengan mahalnya kedaulatan Indonesia.

Menurut dia, kedaulatan Indonesia saat ini dalam keadaan terancam. Baik dari segi ketahanan, kemananan, sosial, dan politik. Hal tersebut disebabkan banyaknya intervensi asing terhadap jalannya pemerintahan Indonesia.

“Saya tugas intelijen selama 17 tahun. Banyak bersentuhan dengan ideologi dan gerakan yang berkembang. Salah satunya gerakan PKI. Dengan kontak tertutup, mereka mengembangkan kekuatannya. Sekarang mereka bangga menyebarkan ideologinya. Maknanya, mereka sudah memiliki kekuatan yang cukup besar,” ujar Syarwan.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here