Kisah Teladan Anies Baswedan dan Remaja yang Terus Bershalawat Jelang Ajal

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mendampingi warganya hingga meninggal dunia. Foto: Istimewa

Oleh: Nurcholis |

“Kamis malam saya cium Dayat, pagi ini bertemu Dayat lagi setelah dia jadi jenazah. Husnul khatimah InsyaAllah,” tulis Anies Baswedan.

Indonesiainside.id, Jakarta — Sebuah teladan kepemimpinan ditunjukkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang mendampingi warganya hingga meninggal dunia.

Kisah mengharukan ini terjadi antara Anies dengan seorang remaja Jakarta bernama Rahmad Hidayat (15), seorang penggemar Persija yang mengalami kecelakaan, dan akhirnya harus kembali ke hadapan Allah usai operasi. ditulis dengan indah oleh peraih The Muslim 500: The World’s 500 Most Influential Muslims 2016  versi The Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISSC) yang berbasis di Amman, Jordania.

Kisah ini, ditulis sendiri oleh Anies Baswedan melalui akun instragramnya @aniesbaswedan berjudul “Pak Anies, Pak Anies, Pak Anies!, Sabtu (3/3). ⁣Inilah kisahnya, yang patut jadi tauladan banyak orang.

***

Terdengar suara pasien di bilik sebelah ruang ICU itu memanggil-manggil.⁣

Kamis malam itu saya menjenguk ibu sahabat yang dirawat di ICU RS Pasar Minggu. Antara bilik pasien dipisahkan korden.⁣

Suaranya keras walau terhalang masker oksigen yang dipakainya. Hingga terdengar seruangan ICU.⁣

Saya hampiri. Matanya menatap tajam. Tangan, kaki dan sekujur badan terkulai tanpa gerak. Dia mengalami patah di 2 ruas tulang lehernya. Tangan dan kaki terlihat lumpuh. Seorang anak muda, 15 tahun, kecelakaan saat perjalanan ke kegiatan ta’lim. ⁣

“Rahmat Hidayat,” jawabnya, saat saya tanya nama. Dayat, panggilannya, lalu menyanyikan lagu penyemangat Persija. Saya dengar dia juga suka melantunkan shalawat. Dalam sakit yang tak terkira itu, dia masih melantunkan shalawat.⁣

“Cium saya Pak. Cium saya Pak,” pinta Dayat. Saya tatap dia. Dia senyum dan saya senyum. Lalu saya sentuh keningnya, pundaknya. Perlahan saya cium keningnya. Saya tahan, saya cium lama kening Dayat. Seakan anak sendiri. Sambil membayangkan dia sedang berhadapan perenggang nyawa. Terdengar suara lirihnya, “terima kasih Pak Anies, terima kasih.” Saya senyum dan berdoa.⁣

Saya pamit sambil memastikan operasi bisa segera dilaksanakan. Alhamdulilah Jumat pagi operasi dilakukan. Ikhtiar manusia menyelamatkan anak belia ini. Lebih dari 12 jam dokter dan paramedik berjuang di meja operasi. Misi yang tidak ringan.⁣⁣

Allah punya rencana lain. Minggu Subuh, sebuah teks masuk di whatsApps mengabarkan Dayat telah wafat pukul 1 dinihari.⁣

Pagi tadi saya melayat ke Jagakarsa. Di mushola tempat dia disholatkan, saya temui ayah-ibunya. Mereka masih terpukul; tak pernah ada dalam bayangannya kalau mereka yang melahirkan dan membesarkan Dayat, kini harus menguburkannya.

Pada orangtuanya saya sampaikan, InsyaAllah anak ini akan jadi pembuka Jannah bagi mereka, Amiin.⁣

Kamis malam saya cium Dayat, pagi ini bertemu Dayat lagi setelah dia jadi jenazah. Husnul khatimah InsyaAllah..⁣

Setelah disholatkan, kami angkat jenazahnya. Melepas ke rahmatullah.. Ke rahmatullah semua akan kembali, sebuah pelajaran bagi semua. Kullu Nafsin Dzaa Iqatul Maut..Al Fathihah, demikian Anies menuliskan kisahnya.

Cerita Anies banyak direspon positif follower.

“Pak anisss bikin nangisss,” tulis pemilik akun @alinsendri88.

“Dunia merindukan pemimpin seperti bapak…” tulis @jookopamungkas.

“Masya Allah, bacanya sambil nangis. . Semoga Allah memberkahi masa kepemimpinanmu pak anise, “tulis @ulfah0616.

Sampai Ahad malam, tulisan dan foto yang dishare Anies Baswedan ini telah dilike 187.815 orang.*

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here