Tentang Yayasan-yayasan, Pak Harto Menjawab – (Bagian III)

- Advertisement -

Oleh: Herry M. Joesoef

Indonesiainside.id, Jakarta – Trilogi pembangunan, menurut Pak Harto, telah menghasilkan orang-orang yang sukses secara usaha. Mereka itulah yang kemudian disebut sebagai konglomerat.

“Negara mana pun juga membutuhkan pengusaha-pengusaha yang besar, termasuk yang disebut konglomerat itu. Tapi diisukan seolah-olah pemerintah itu yang membesarkan konglomerat. Sebetulnya, konglomerat lahir karena pemerintah menggugahnya. Produk yang dihasilkan perusahaan konglomerat itu untuk rakyat. Sekarang, kepemilikannya diperluas dengan menjual sahamnya di bursa. Dengan demikian, tidak ada lagi monopoli kepemilikan konglomerasi itu.”

- Advertisement -

“Tetapi, orang menilai seolah-olah saya itu keliru. Padahal itu merupakan proses. Buktinya, konglomerat di sana habis, produksi tidak jalan. Kebutuhan rakyat pun jadi tidak dapat dipenuhi. Ini suatu bukti, bahwa saya yang disalahkan itu tidak seluruhnya salah. Karena proses, lalu disalahkan seolah tidak ada keadilan. Keadilan itu nantinya adalah dengan menjual saham di bursa itu. Dengan sendirinya orang banyak yang memiliki.”

Yayasan Dharma Bakti Sosial (Dharmais)

“Untuk mengatasi ekonomi dan memerangi kemiskinan, terutama anak yatim piatu, saya ajak yang sukses itu. Mereka yang sukses itu jangan hanya menikmati kesenangan hidup di dunia saja, tapi coba memikirkan yang akhirat. Karena itu mereka saya ajak. Sebagian dari penghasilan mereka disumbangkan kepada orang-orang miskin. Dalam rangka PMA, bukan penanaman modal asing, tapi penanaman modal akhirat.”

“Untuk itu saya minta membantu dengan sebagian dari labanya. Dua persen dari laba 100 juta rupiah ke atas supaya disumbangkan. Jumlahnya tidak sedikit, mereka dengan sukarela menyumbang.”

“Ada juga sumber lain, misalnya bank. Di anggaran dasar masing-masing bank BUMN disebutkan, dalam keuntungan ada 5% dana sosial. Karena mereka tidak mampu menyalurkannya, Menteri Keuangan menetapkan untuk disalurkan lewat Dharmais.”

“Dengan demikian, sumber dana Dharmais yang 5% dari keuntungan bank BUMN itu –yang memang untuk sosial — bukan dengan memaksakan uang bank, tetapi karena sudah dicadangkan untuk sosial.”

“Sampai sekarang, dengan cara-cara yang demikian, kita telah membantu 1.168 panti sosial di seluruh Indonesia dengan 51.433 penghuni. Karena kita berprinsip tidak memonopoli pemberian bantuan, yakni hanya oleh Dharmais yang membantu, maka tidak seluruh penghuni panti dibantu, hanya 75%. Tetapi terus menerus, walaupun jumlahnya tidak banyak. Bantuan itu dimulai dengan beberapa ribu rupiah. Terakhir jadi Rp 30.000. Dan kini kita genapi lagi menjadi Rp 45.000/bulan.”

“Mulai tahun 1997-1998 kita mulai pula operasi bibir sumbing, karena bibir sumbing banyak yang menimbulkan masalah yang kompleks. Tahun 1997-1998, programnya di Jabotabek dulu, bersama NTB dan NTT. Ini sudah membantu 530 orang melalui operasi. Ada yang dioperasi total, ada yang lokal. Umumnya, 75% dioperasi totaI, jadi biayanya lebih tinggi daripada lokal. Untuk tahun berikutnya akan kita tingkatkan pelayanan terhadap 1.000 pasien. Kerjasama kita dengan Perhimpunan Dokter Ahli Bedah Plastik Indonesia (Perapi).”

“Yayasan Dharmais juga membantu orang cacat tubuh. Yakni lebih kurang 7.449 orang. termasuk tunanetra 3.365 orang dan juga cacat veteran. Sebagian yang cacat veteran itu sudah punya rumah. Seluruh rumah yang diminta 4.000 unit tapi yang telah kita selesaikan 2.810 unit ruman sederhana. Pemda menyediakan tanahnya, Yayasan Dharmais menyiapkan bangunannya. Kemudian diserahkan ke mereka ini.”

“Dharmais juga membangun Rumah Sakit Kanker Dharmais. Tanahnya milik yayasan. Kemudian Dharmais mendirikan bangunannya berikut alat-alatnya. Setelah selesai. diserahkan kepada Departemen Kesehatan. Jadi RS itu bukan milik yayasan lagi.”

“Yayasan Dharmais itu menyatukan depositonya, surat-surat berharga dan saham menjadi dana abadi. Semua diaudit, diperiksa dan diteliti oleh Kejaksaan Agung. Kalau yang deposito itu jelas, bunga deposito sudah tahu. Dengan bunga deposito, program-program tahunan bisa dilaksanakan.”

(Sampai saat ini Yayasan Dharmais yang berdiri tahun 1975 itu, masih secara rutin melaksanakan operasi katarak, bibir sumbing, operasi kornea mata, sampai santunan lewat peningkatan gizi masyarakat)

Yayasan Dakab

“Mengenai Yayasan Dakab (Dana Karya Abadi), yang didirikan untuk mendukung Keluarga Besar Golkar – bukan Golkar saja – dalam usaha mempertahankan Pancasila dan UUD 1945, mengawal, melengkapi dan membentengi diri dan perjuangan-perjuangan lainnya seperti Pemilihan Umum dan sebagainya.”

“Yayasan Dakab itu bukan milik Golkar. Golkar hanya menerima dana saja, menerima apa yang dibutuhkan. Dana paling besar diberikan Dakab kepada Keluarga Besar Golkar. Tapi, tidak hanya kepada Golkar, melainkan juga kepada yang lain. Walaupun sebagian besar bantuan itu diberikan kepada Golkar dalam rangka mempertahankan Pancasila dan UUD 1945 tadi.”

“Termasuk Muhammadiyah? Ya, sebagian. Sebagian pada waktu itu dibantu oleh Banpres dan sebagian oleh Dakab, organisasi massa pemuda, Muhammadyiah, HMI dan sebagainya dapat bantuan.”

“Jadi, ini bukan bantuan Dewan Pembina atau DPP Golkar, atau pertanggungjawaban (Dakab) ke DPP Golkar: Tidak! Ini merupakan bantuan dan pendiri untuk membantu Keluarga Besar Golkar dan sebagainya. Dakab mempunyai deposito dan surat-surat berharga, mempunyai usaha, tidak mendirikan usaha sendiri. Seperti juga Dharmais dan sebagainya.”

Yayasan Harapan Kita

“Ibu Tien memprakarsai pendirian Yayasan Harapan Kita, juga kebudayaan, kesenian dan cinta tanah air, yakni dengan membangun TMII dan Rumah Sakit Harapan Kita. Semuanya sudah diserahkan kepada negara. Ibu berpandangan, pembangunan sumber daya manusia menuju manusia yang berkualitas harus dimulai sejak anak berada di kandungan sampai nanti sehat hingga dewasa. Maka dibangunlah Rumah Sakit Anak dan Bersalin.”

“Di samping itu juga Rumah Sakit Jantung, karena penyakit jantung menjadi penyebab kematian nomor dua. Kedua rumah sakit ini telah diserahkan kepada pemerintah, seperti halnya TMII.”

“Di samping itu, Perpustakaan Nasional juta dibangun oleh yayasan dan diserahkan kepada pemerintah. Jadi, tidak ada lagi yang menjadi milik yayasan, apalagi menjadi milik keluarga. Namun, agar operasional berjalan lancar dan investasinya tidak sedikit, maka yayasan membentuk Dewan Penyantun di Rumah Sakit Harapan Kita, Rumah Sakit Kanker Dharmais dan TMII. Ternyata, dewan-dewan penyantun masih harus menyantuni rumah sakit. Santunan diberikan dengan harapan, kelak bisa mandiri dalam pengelolaannya.”

“Karenanya, sekarang dilaksanakan ketentuan mengenai pemakaian dana rumah sakit, yakni 65 persen untuk rumah sakit dan 35 persen untuk dewan penyantun. Yang 35 persen untuk dewan penyantun itu dikembalikan lagi berupa investasi dan juga untuk membantu rumah sakit-rumah sakit di daerah yang melaksanakan operasi jantung, seperti Medan, Padang, Bandung, Semarang, Yogya, Surabaya, Bali, Ujung Pandang dan Manado.”

“Dana yang dikeluarkan oleh yayasan lebih besar daripada yang diterima. Tetapi ada orang bilang, wah… perampok, mengambil 35 persen. Sudah dijelaskan berulang-ulang, tapi orang-orang tidak mau mengerti. Bahkan dijadikan isu politik.”

Bukan Milik Saya

Semua yayasan itu, tidak ada yang milik saya, milik keluarga juga tidak, milik pengurus juga tidak, melainkan semuanya milik yayasan, yang tujuannya sudah jelas, sosial.

“Terhadap yayasan-yayasan yang saya ketuai, atau saya jadi pelindungnya, silahkan dilakukan penelitian oleh kejaksaan. Silahkan.” (Bersambung)

Berita terkini

Nasihat untuk Para Wartawan Muslim

Seorang wartawan bertanya kepada ustadz tentang hukum profesi yang digelutinya. Bolehkah bekerja menjadi wartawan dalam Islam? Demikian inti pertanyaannya yang ditujukan kepada Ustadz Ammi Nur...
- Advertisement -
ads1 mekarsari

Gubernur Gorontalo Larang Warga Tinggal di Rumah akibat Banjir Bandang

Indonesiainside.id, Gorontalo - Gubernur Gorontalo Rusli Habibie melarang warganya tinggal di rumah akibat banjir bandang yang melanda pada Jumat malam (3/7). “Sekarang yang kita lakukan...

12 Calon Pengantin di Nunukan Terdeteksi Positif Narkoba

Indonesiainside.id, Nunukan - Sebanyak 12 calon pengantin terdeteksi positif menggunakan narkoba setelah dilakukan tes urine oleh Badan Narkotika Nasional Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, sepanjang...

Menteri Luar Negeri Pakistan Positif Covid-19

Indonesiainside.id, Islamabad-- Menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mahmood Qureshi hari Jumat (3/7) dinyatakan positif virus corona baru. Menulis di akun twitter, Shah Mahmood mengabarkan...

Berita terkait

Covid-19 Belum Terkendali, Jusuf Kalla: Masyarakat yang Harus Mengendalikan Diri

Indonesiainside.id, Jakarta - Laju penularan virus corona jenis baru (Covid-19) belum juga terkendali. Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla mengatakan, masyarakatlah yang...

Penumpang Garuda Indonesia Meninggal dalam Penerbangan Setelah Sesak Napas

Indonesiainside.id, Jakarta - Garuda Indonesia memberikan penjelasan tentang seorang penumpangnya yang meninggal pada penerbangan charter GA 8820 rute New Delhi - Batam - Merauke...

Ormas Lintas Agama Serukan Tolak RUU HIP

Indonesiainside.id, Jakarta - Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), Komisi HAK Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), Parisada Hindu...

Update Covid-19: Bertambah 1.301 Kasus, Pasien Meninggal 3.036 Orang

Indonesiainside.id, Jakarta - Kasus pertambahan kasus orang positif Covid-19 sedang berada di angka tinggi-tingginya. Hingga hari ini kasus Covid-19 masih di atas 1.000 kasus. Juru...

1 KOMENTAR

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here