Cara Amnesty International Buktikan Pelanggaran HAM Brimob di Aksi 22 Mei

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid. Foto: Citrust.id

Oleh: Rudi Hasan

Indonesiainside.id, Jakarta — Direktur Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, membeberkan metodologi yang digunakan pihaknya dalam mengungkap pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dalam kerusuhan pasca-Aksi 22 Mei di Jakarta. Pertama, penelitian menyasar video viral di media sosial (medsos) yang memperlihatkan belasan anggota Brimob melakukan penyiksaan dan tindakan tidak manusiawi terhadap seseorang yang sudah tidak berdaya di wilayah kerusuhan.

“Sehari setelah viralnya video tersebut, tim Amnesty International mulai turun ke lapangan untuk melakukan investigasi,” ujar Usman di Jakarta, Selasa (25/6).

Menurut dia, ada verifikasi metadata dan uji keaslian atas video yang dilakukan. Tak hanya itu, pihaknya juga mewawancarai sejumlah narasumber di lokasi kejadian.

Usman menuturkan, temuan awal mengungkapkan bahwa personel Brimob telah melakukan penyiksaan atau bentuk perlakuan buruk lainnya terhadap warga sipil. Tak hanya satu, ada lima orang bernasib serupa di lahan kosong milik Smart Service Parking di Kampung Bali, Jakarta Pusat.

Dia pun memerinci kejadian di lokasi ketika itu. Peristiwa bermula saat anggota Brimob melakukan penyisiran di daerah Kampung Bali pada 23 Mei 2019 sekitar pukul 05.30 pagi WIB. Menurut Usman, saat itu para anggota Brimob sedang melakukan penyisiran dan memerintahkan kepada warga setempat untuk diperbolehkan masuk ke salah satu lahan parkiran, karena kondisi pagar area itu dikunci dari dalam.

“Ketika pagar dibukakan, anggota satuan kepolisian tersebut melakukan penangkapan dengan menggunakan kekerasan yang tidak diperlukan terhadap setidaknya dua orang,” ungkap Usman.

Dengan kata lain, ia menyebut kekerasan fisik digunakan terhadap orang yang tidak melawan dan tidak berdaya sebagaimana yang direkam dalam video viral tersebut. Menurut dia, penyisiran secara brutal kala itu jelas masuk tindak kriminal.

“Karena aparat menggunakan tindakan kekerasan yang tidak diperlukan. Negara harus membawa anggota Brimob yang melakukan penyiksaan tersebut ke pengadilan untuk diadili agar ada keadilan bagi korban,” kata Usman.

Hasil penelitian tim Amnesty International menunjukkan, luka yang dialami korban terbilang beragam, mulai dari lebam di badan hingga bocor di kepala. Salah satu korban yang mengalami luka terparah saat ini masih dirawat secara intensif di ruang ICU RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, dengan pengawasan yang sangat ketat dari pihak kepolisian.

Beberapa saksi mengatakan kepada Amnesty International bahwa mereka melihat salah satu korban dalam kondisi luka parah dan berdarah-darah ketika diseret oleh anggota Brimob. (AIJ)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here