Pelajaran Agama Ditiadakan?

Setyono Djuandi Darmono
Chairman Jababeka Group dan pendiri President Universit, Setyono Djuandi Darmono . Foto : Istimewa

Oleh: Herry M. Joesoef

Indonesiainside.id, Jakarta — Setyono Djuandi Darmono dikenal dengan SD Darmono, Chairman Jababeka Group dan pendiri President University, Bekasi, berpendapat, agar pendidikan agama tidak perlu diajarkan di sekolah. Menurutnya, agama cukup diajarkan orangtua masing-masing atau melalui guru agama di luar sekolah.

“Mengapa agama sering menjadi alat politik? Karena agama dimasukkan dalam kurikulum pendidikan. Di sekolah, siswa dibedakan ketika menerima mata pelajaran (mapel) agama. Akhirnya mereka merasa kalau mereka itu berbeda,” tutur Darmono seusai bedah bukunya yang berjudul Bringing Civilizations Together di Jakarta, Kamis (4/7).

Sekolah, menurut Darmono, tanpa disadari sudah menciptakan perpecahan di kalangan siswa. Mestinya, siswa-siswa itu tidak perlu dipisah dan itu bisa dilakukan kalau mapel agama ditiadakan.

Pernyataan itu mendapat kecaman dari berbagai pihak, terutama dari kalangan Islam. Hidayat Nur Wahid dari PKS, misalnya, telah menyampaikan pendapatnya yang tidak sejalan dengan Darmono tersebut.

Melihat kondisi ini, Ardiyansyah Djafar dari Desk Komunikasi Jababeka, menyampaikan rilis terkait pernyataan bosnya itu. Intinya, “Bukan mengeluarkan pelajaran agama dari sekolah, tetapi sebuah koreksi dan renungan, apa yang salah dengan pendidikan agama kita di sekolah.”

Rilis ini bertentangan dengan argumen yang dibangun oleh Darmono, dimana mapel Agama ditiadakan. Karena itu, rilis tersebut tidak punya nilai tambah atas apa yang telah dilontarkan oleh Darmono.

Pemikiran bahwa agama dikeluarkan saja dari sekolah, itu bukanlah hal yang baru. Kelompok liberal-sekuler sudah lama mengusulkan hal itu. Dan hampir setiap tahun, wacana pelajaran agama dikeluarkan dari sekolah, selalu dimunculkan. Apa benar pelajaran agama memicu radikalisme? Perlu penelitian yang seksama. Jika benar, mesti ada ikhtiar untuk memperbaiki, bukan mencoretnya. (HMJ)

2 KOMENTAR

  1. Pelajaran agama masa sekarang bukan lagi penting soal akhlak dan budi pekerti tapi soal identitas kelompok. Tidak peduli soal akhlak uruk jika bagian dari kelompoknya agamanya akan dibela begitu sebaliknya kelompok agama lain sebaikapun akhlaknya tetap difitnah dan dibenci. Setuju sekali hapuskan pendidikan agama yang menimbulkan diskriminasi dan gesekan antar kelompok masyarakat

  2. Wah gawat nih pelajaran agama di sekolah diusulkan untuk di hapus.jangan2 yg mengusulkan itu keturunan PKI,hati2 kalo sampe pak Jokowi mau aja,brabe nih negara kita bisa akhlaq dan moralnya rusak,skrng aja udh banyak yg rusak apalagi kalo nggk ada pelajaran agama.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here