Mengenal 51 Tahun Warisan Ibu Tien dan Yayasan Harapan Kita

Yayasan Harapan Kita (YHK) yang didirikan oleh Raden Ayu Siti Hartinah atau Ibu Tien Soeharto. Foto: Istimewa

Oleh: Ahmad ZR

Indonesiainside.id, Jakarta – Tanggal 23 Agustus 2019 merupakan momentum yang sangat istimewa bagi Yayasan Harapan Kita (YHK) yang didirikan oleh Raden Ayu Siti Hartinah atau Ibu Tien Soeharto. Pada tanggal tersebut, YHK genap berusia setengah abad dan berkiprah bagi masyarakat Indonesia.

YHK Ibu Tien Soeharto sejak didirikan pada tanggal 23 Agustus 1968 telah menorehkan rentetan karya agung yang memberikan manfaat besar hingga saat ini. YHK didirikan karena para pendiri, yaitu Siti Hartinah (Tien Soeharto) dan Zaleha Ibnu Soetowo prihatin terhadap kondisi bangsa Indonesia saat itu. Yayasan Harapan Kita diharapkan mewujudkan cita-cita Indonesia adil makmur sesuai amanat para founding fathers.

Hari itu pendirian Yayasan Harapan Kita disahkan oleh Notaris Januar Hamid, SH. Disaksikan suaminya tercinta yang baru saja menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Ibu Tien Soeharto menerima kado ulang tahunnya yang luar biasa dari Tuhan, juga restu dari suaminya, serta semua yang mendukung dan merestui pendirian yayasan ini.

Di dalam akta pendiriannya, Ibu Tien Soeharto bersama Ibu Zaleha Ibnu Sutowo secara jelas menetapkan tujuan Yayasan Harapan Kita (YHK) untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia dalam arti seluas-luasnya.

Tujuan ini diterjemahkan dalam tiga usaha berbentuk pengabdian berupa bantuan moril maupun materiil kepada instansi dan lembaga yang tujuannya meningkatkan kesejahteraan rakyat, mendirikan bangunan-bangunan dan rumah-rumah yang dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan mengadakan usaha-usaha lain yang tidak bertentangan dengan anggaran dasar yayasan, peraturanperaturan dan hukum negara yang berlaku.

Ibu Tien Soeharto dan Ibu Siti Zaleha Ibnu Sutowo mengumpulkan dana sebesar Rp 100.000, (seratus ribu rupiah) untuk dijadikan kekayaan pertama yayasan. Kala itu Pembangunan Nasional menjadi isu utama dalam Pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto dan mulai menggeser isu-isu politik yang begitu kuat mewarnai Pemerintahan Orde Lama.

Pada kesempatan pertama berkiprah, YHK membangunkan sebuah bangunan bagi pekerja penyandang cacat tubuh yang disebut Swa Prasidya Puma (SPP). Lokasinya di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Ini merupakan proyek awal YHK yang tidak semata-mata bersifat sosial. Seperti djtuturkan oleh Ibu Kartini Widya Latief dalam catatan kenangannya (Rangkaian Melati, 1996:549) mereka yang menyandang cacat tubuh bukan hanya ditampung, tapi juga secara mandiri bekerja sesuai keahliannya masing-masing. Demikianlah, SPP dilengkapi dengan unit percetakan dan konveksi.

Berikut warisan (legacy) Yayasan Harapan Kita untuk bangsa Indonesia:

1. Taman Mini Indonesia Indah

Pembangunan suatu miniatur yang memuat kelengkapan Indonesia dengan segala isinya ini dicetuskan oleh Ibu Negara, Siti Hartinah, yang lebih dikenal dengan sebutan Ibu Tien Soeharto. Gagasan ini tercetus pada suatu pertemuan di Jalan Cendana no. 8 Jakarta pada tanggal 13 Maret 1970.

Ide pembuatan miniatur Indonesia ini bangkit setelah Ibu Negara mendengarkan dan menghayati isi pidato Presiden Soeharto tentang keseimbangan pembangunan umum DPR GR Tahun 1971. Selain itu, beliau juga sering menyertai Presiden mengunjungi negara-negara sahabat dan melihat obyek-obyek wisata di luar negeri.

Dari sana, bangkit gagasan untuk membangun taman rekreasi yang menggambarkan keindahan dan keberagaman Indonesia. Melalui taman rekreasi ini, diharapkan dapat membangkitkan rasa bangga dan rasa cinta tanah air pada seluruh bangsa Indonesia.

Dimulailah suatu proyek yang disebut Proyek Miniatur “Indonesia Indah”, yang dilaksanakan oleh Yayasan Harapan Kita. TMII mulai dibangun tahun 1972 dan diresmikan pada tanggal 20 April 1975.

Berbagai aspek kekayaan alam dan budaya Indonesia sampai pemanfaatan teknologi modern diperagakan di areal seluas 150 hektare. Aslinya topografi TMII agak berbukit, tetapi ini sesuai dengan keinginan perancangnya. Tim perancang memanfaatkan ketinggian tanah yang tidak rata ini untuk menciptakan bentang alam dan lansekap yang kaya, menggambarkan berbagai jenis lingkungan hidup di Indonesia.

2. Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita

RSAB Harapan Kita didirikan oleh Yayasan Harapan Kita pada tanggal 22 Desember 1979 dengan nama Rumah Sakit Anak dan Bersalin Harapan Kita disingkat RSAB Harapan Kita.
Gagasan ini didasarkan pada keyakinan bahwa anak-anak adalah tunas bangsa yang dapat mengangkat derajat bangsa Indonesia di masa yang akan datang.

Pengelolaan rumah sakit secara resmi diserahkan ke Pemerintah (DepKes) pada bulan Juni 1998. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 127 tentang Pendirian Perusahaan Jawatan (Perjan), RSAB Harapan Kita tanggal 12 Desember 2000 RSAB Harapan Kita berubah badan hukumnya menjadi Perusahaan Jawatan (Perjan). Berdasarkan SK Menkes No.HK.02.03/I/0924/2015 tanggal 30 Maret 2015 tentang Izin Operasional RSAB Harapan Kita sebagai Rumah Sakit.

3. Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita

Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita (RSJPDHK) merupakan rumah sakit khusus yang menjadi Pusat Rujukan Nasional untuk penanganan penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular). Rumah sakit ini didirikan oleh Yayasan Harapan Kita diatas tanah seluas 22.389 m2 di Jl. S. Parman kavling 87 Slipi, Jakarta Barat dan diresmikan pada tanggal 9 Nopember 1985.

Pada tanggal 27 Maret 1985 Yayasan Harapan Kita melalui Surat Keputusan No.02/1985 menyerahkan kepemilikan rumah sakit ini kepada pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan, tetapi pengelolaannya diserahkan kepada Yayasan Harapan Kita berdasarkan SK No. 57/Menkes/SK/II/1985. Pada tanggal 31 Juli 1997 Yayasan Harapan Kita menyerahkan kembali pengelolaan Rumah Sakit Jantung Harapan Kita kepada Departemen Kesehatan Republik Indonesia dan selanjutnya melalui Peraturan Pemerintah nomor 126 tahun 2000, status Rumah Sakit Jantung Harapan Kita pun berubah menjadi Perusahaan Jawatan dibawah naungan Kementerian BUMN.

Pada tanggal 13 Juni 2005, ditetapkan Peraturan Pemerintah nomor 23 tahun 2005 tentang Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum, yang menyebutkan perubahan status rumah sakit yang semula berstatus Perusahaan Jawatan (Badan Usaha Milik Negara) menjadi Badan Layanan Umum (pasal 37 ayat 2). Dengan demikian, Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita pun berubah statusnya menjadi BLU-RSJPD Harapan Kita, yang berada di bawah Kementerian Kesehatan RI sebagai Unit Pelaksanaan Teknis dengan menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PPK-BLU).

4. Perpustakaan Nasional RI

Perpustakaan Nasional RI merupakan salah satu perwujudan dari penerapan dan pengembangan sistem nasional perpustakaan, secara menyeluruh dan terpadu, sejak dicanangkan pendiriannya tanggal 17 Mei 1980 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Daoed Joesoef. Ketika itu kedudukannya masih berada dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan setingkat eselon II di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan, dan badan ini merupakan hasil integrasi dari empat perpustakaan besar di Jakarta.

Atas prakarsa Almarhumah Ibu Tien Suharto, melalui Yayasan Harapan Kita yang dipimpinnya, Perpustakaan Nasional memperoleh sumbangan tanah seluas 16,000 m² lebih berikut gedung baru berlantai sembilan dan sebuah bangunan yang direnovasi. Lahan yang terletak di Jl. Salemba Raya 28A, Jakarta Pusat, merupakan lokasi Koning Willem III School (Kawedri), yakni sekolah HBS pertama di Indonesia ketika zaman kolonial.

Bangunan sekolah inilah yang kemudian setelah direnovasi menjadi gedung utama yang digunakan untuk kantor pimpinan dan sekretariat. Gedung di sebelahnya yang berlantai sembilan berfungsi sebagai perpustakaan yang sebenarnya, di mana koleksi bahan pustaka tersimpan dan dilayankan untuk umum.

Perpustakaan Nasional RI kini menjadi perpustakaan yang berskala nasional dalam arti yang sesungguhnya, yaitu sebuah lembaga yang tidak hanya melayani anggota suatu perkumpulan ilmu pengetahuan tertentu, tetapi juga melayani anggota masyarakat dari semua lapisan dan golongan. Walau terbuka untuk umum, koleksinya bersifat tertutup dan tidak dipinjamkan untuk dibawa pulang.

5. Taman Anggrek

Taman Anggrek Indonesia Permai (TAIP) adalah salah satu kekayaan Indonesia yang dipamerkan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Salah satu maha karya era Pak Harto ini bisa ada karena dukungan penuh dari Yayasan Harapan Kita. TAIP diresmikan pada tanggal 20 April 1993 oleh Presiden Republik Indonesia, HM Soeharto, TAIP memberikan ruang khusus bagi pembudidaya sekaligus memberikan wadah bagi pedagang dan kolektor anggrek nusantara.

(EP)