MUI Sayangkan Pemimpin Arab ‘Diam’ Atas Serangan di Tepi Barat

aksi pembunuhan terhadap Alaa Wahdan
Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri KH Muhyidin Junaidi. Foto:Suandri Ansah/Indonesiainside.id

Oleh: Ahmad ZR

Indonesiainside.id, Jakarta – Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri, Muhyiddin Junaidi, mengutuk keras aksi pembunuhan terhadap Alaa Wahdan oleh pasukan penjajahan Israel dengan keji di pos pemeriksaan Qalandia di Jerusalem Utara, kemarin (19/9). Selama 2019, pembunuhan serupa telah mencapai angka 346.

“Ya, ini menandakan Israel dan sekutunya semakin brutal dan bersikap biadab terhadap bangsa palestina,” kata Muhyiddin kepada Indonesia Inside, saat dihubungi, Jumat (20/9).

Ia juga menyayangkan negara-negara tetangga di sekitar Palestina yang diam atas persoalan tersebut. Menurutnya, mekanisme baru negara Teluk Arab justru melegitimasi agresivitas Israel dan rencana pencaplokan Tepi Barat, bukan menyelesaikan pangkal permasalahan.

“Karena bangsa Arab dengan kepemimpinan mereka sedang terkontaminasi penyakit hubbud dunia (cinta dunia), semakin mesra dengan para petinggi Israel dan sekutunya di dunia,” ujarnya.

Bahkan, lanjutnya, perang sesama bangsa Arab muslim dengan menghabiskan ratusan miliyar dolar dinilai telah membuka jalan lebar bagi Israel untuk memperluas wilayah jajahan mereka. Khususnya usai Jerussalem dikuasai Israel dan Tepi Barat semakin di Yahudikan dengan perluasan aneksasi wilayah Arab.

“Jadi, mimpi Yahudi untuk mendirikan Israel Raya hanya tinggal menunggu waktu, ini ironis sekali,” katanya.

Sementara, Pengamat politik internasional, Arya Sandiyudha, menyatakan negara Arab seperti didorong untuk menyetujui proposal Israel agar dunia mendukung Palestina hanya dalam aspek bantuan sosial ekonomi dan menjaga batas minimal penghidupan. Menurut dia, negara-negara mayoritas Muslim tidak akan efektif menekan apabila hanya mengandalkan KTT Luar Biasa OKI sebagai fora atau panggung untuk mengirim pesan retoris demi meredam warga domestik masing-masing terhadap isu Palestina.

“Maka, perlu kebijakan asertif dari negara-negara Arab di sekeliling Palestina,” ujarnya.

Doktor bidang Ilmu Politik dan Hubungan Internasional ini menilai, ada upaya di antara negara-negara Arab bersama broker state permasalahan ini untuk menciptakan mekanisme yang seakan-akan solutif dan adil, the deal of century. Israel akan diberikan keamanan, sementara Palestina diberikan kesejahteraan.

“Sejatinya, ini sama dengan menghilangkan segala hak rakyat Palestina untuk dibela ketika menghadapi agresi Israel,” katanya. (CK)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here