Kadernya Meninggal di Kendari, DPP IMM Tuntut Pertanggungjawaban Polri

aksi IMM
Ketua DPP IMM, Najih Prastiyo. Foto: Istimewa

Oleh: Suandri Ansah

Indonesiainside.id, Jakarta – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) berduka atas wafatnya Immawan Muhammad Randi, mahasiswa Universitas Halu Oleo di Kendari, Sulawesi Tenggara. Mereka menilai kepolisian telah bertindak represif.

Ketua DPP IMM, Najih Prastiyo mengecam tindakan kepolisian yang diduga telah membuat nyawa Randi melayang. Randi adalah aktivis IMM yang turut berunjuk rasa menolak RKUHP di depan kantor DPRD Sulawesi Utara, hari ini.

“Saya mengecam atas terjadinya peristiwa ini. Bagaimana bisa dibenarkan prosedur pengamanan unjuk rasa dengan memakai senjata lengkap dengan peluru tajam?” katanya di Jakarta, Kamis (26/9).

WhatsApp Image 2019 09 26 at 22.26.23

Najih meminta kepolisian bertanggung jawab mengusut sebab meninggalnya Randi sampai tuntas. Dia menyatakan, kader IMM se-Indonesia akan mengawal penuh kasus ini hingga terungkap secara terang benderang.

Sebelumnya, pihak kepolisian membenarkan seorang pengunjuk rasa di gedung DPRD Sulawesi Tenggara yang meninggal bernama Randi (21), mahasiswa Fakultas Perikanan Universitas Halu Oleo.

“Benar, ada seorang pengunjuk rasa bernama Randi meninggal dunia namun sebab kematian masih dalam proses autopsi,” kata Kabid Humas Polda Sultra, AKBP Harry Goldenhart, di Kendari, Kamis (26/9).

WhatsApp Image 2019 09 26 at 22.26.231

“Memang terdapat luka di dada korban tetapi masih diselidiki luka tersebut akibat apa,” ujarnya.

Harry mengklaim, personel yang ditugaskan mengamankan aksi unjuk rasa tidak dibekali peluru tajam dan peluru karet. “Sebelum bertugas personel diperiksa. Sesuai SOP hanya melengkapi diri dengan tameng, tongkat dan peluru gas air mata,” ujarnya. (AIJ)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here