Tuduhan Intoleransi dan Radikalisme ke Pesantren Salah Alamat

Mahasantri Sa'iidusshiddiqiyah Jakarta, Ustaz Muhammad Abror. Foto: Ahmad ZR/Indonesiainside.id

Oleh: Ahmad ZR

Indonesiainside.id, Jakarta — Penggeblengan paling pertama yang didapatkan di pondok pesantren (ponpes) adalah toleransi, hidup bersama, dan saling memahami sesama santri yang datang dari berbagai suku dan karakter. Karena itu, santri tak perlu diajari hidup toleran.

Makanya dipertanyakan jika ada kecurigaan kepada pesantren mengenai penggeblengan yang tidak-tidak, termasuk tuduhan radikalisme. Kalau pun ada, sifatnya kasuistik.

Mahasantri Sa’iidusshiddiqiyah Jakarta, Ustaz Muhammad Abror mengatakan, dalam bermasyarakat dan bergaul, santri selalu memegang prinsip tawazun (keseimbangan), tawassuth (moderasi), dan tasamuh (toleransi). Nilai-nilai tersebut telah dipraktikkan sejak lama, termasuk oleh ulama NU dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui resolusi jihad.

Baca Juga:  Anggaran Bantuan Pesantren dan Sekolah Islam Dicairkan 12 Agustus, Ini Besarannya

“Itu, sangat tidak benar (jika pesantren dikatakan sebagai bibit radikalisme dan intoleransi),” ujarnya kepada Indonesia Inside, di komplek pesantren Asshiddiqiyah, Jakarta Barat, Sabtu (28/9).

Di pesantren ini, tengah digelar Muktamar Pemikiran Santri Nusantara 2019. Hadir juga Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin sebagai pembicara.

“Hari santri pada tahun ini menggunakan tajuk santri untuk perdamaian dunia, kenapa, karena sejak dulu peran santri adalah sebagai pendamai,” kata Ustaz Muhammad Abror.

Menurut dia, para santri sejak dulu diajarkan untuk selalu mengedepankan akhlakul karimah, sikap moderat dan toleransi kepada siapapun dan dimanapun. “Pesantren tidak mungkin mengajarkan kekerasan, intoleransi dan lain sebagainya,” kata dia. (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here