Rumah Dibakar dan Keluarga Dianiaya di Wamena, Erizal Selamat karena Pura-Pura Mati

Suasana saat terjadi demo anarkis di Wamena, Senin (23/9). Foto: Antara
- Advertisement -

Oleh: Azhar AP

Indonesiainside.id, Padang – Enam tahun silam, seorang warga Minang bernama Erizal, memutuskan untuk merantau ke Wamena, Papua, bersama seorang anak dan istrinya. Di sana, dia merajut kehidupan baru demi menghidupi kekuarga.

Warga asal Sungai Rampan, Koto Nan Tigo IV Koto Hilie, Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, itu membangun usaha kecil hingga mempunyai sebuah kios tempat berdagang. Di tempat itu pula dia akhirnya berpisah dengan istri dan anak keduanya.

- Advertisement -

Hari itu, terjadi kerusuhan di Wamena, Senin (23/9). Pembakaran terjadi di mana-mana. Jangankan kiosnya, kantor bupati saja ludes terbakar. Sebanyak 165 rumah terbakar dan 465 kios ikut hangus. Salah satunya, kios milik Erizal.

“Selama enam tahun lebih di sana, hubungan saya dengan penduduk asli Papua baik-baik saja, kami tidak pernah ada konflik apapun,” katanya di kantor ACT Sumbar di Ulak Karang, Padang, Selasa (1/10), dilansir Antara.

Bahkan saat terjadi kericuhan, penduduk di sana ikut membantu menyelamatkan warga dari kericuhan. Pernyataan pemerintah setempat bahwa pelaku pembakaran dan kerusuhan dilakukan orang luar, benar adanya.

Erizal masih ingat saat diserang sekitar 30 orang. Tak satu pun dia kenal. Saat kejadian, tak tahu lagi bagaimana penyelamatan diri. Dia sempat bertahan dalam kios, namun pintunya didobrak.

Dengan membawa senjata tajam, anak kecil dan perempuan pun dibantai secara sadis. Setelah itu, kios tempat mereka berlindung dibakar.

Erizal selamat, namun ia kehilangan seorang anak, istri, dan keponakannya. Sementara api mulai berkobar. Usai dibantai, Erizal berpura-pura mati. Meski terpanggang api, dia merelakan tubuhnya terbakar hingga gerombolan pembantai berlalu.

Alhamdulillah saya berhasil selamat dari peristiwa waktu itu. Namun sayang anak dan istri saya meninggal dunia karena terbakar,” kata Erizal.

Sebelum kejadian, dia berada di kios tempatnya bekerja. Tiba-tiba didatangi sejumlah orang berkerumun dan menyisir semua kios yang ada.

“Jumlah mereka sekitar 30-an orang dan kami sama sekali tidak mengenal mereka,” ujarnya.

Gerombolan tersebut memaksa agar dibukakan pintu. “Salah seorang kemenakan saya yang bernama Yoga mencoba menahan pintu, namun mereka berhasil mendobraknya, sehingga kami dilempari, ditembaki dengan panah dan kami semua sudah pasrah mati,” katanya.

Setelah sekeluarga dianiaya, rumahnya dibakar. “Namun saya cepat bangkit dan menyelamatkan diri tapi tetap saja kepala dan tangan saya terbakar,” ceritanya.

Ia mencoba meminta bantuan kepada teman-teman yang ada di Kodim, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa dikarenakan mobil tidak bisa masuk.

“Dua jam setelah itu barulah bantuan datang, saya langsung dibawa ke rumah sakit diobati pihak medis karena mengalami luka bakar di beberapa badan saya,” ujarnya.

Erizal mempunyai dua anak. Anak pertama bernama James Lugian Rizal (13), sekolah di SMP Serambi Mekah, Padang Panjang. Anak kedua ikutĀ  bersama istrinya merantau ke Wamena. Semoga mereka meninggal dalam keadaan syahid.

Ia berharap konflik tersebut bisa segera terselesaikan, sehingga tidak banyak lagi korban jiwa yang berjatuhan. Dia berharap perantau dan warga asli Wamena tidak lagi menemui kejadian mengenaskan itu selamanya. (Aza/Ant)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here